Sabtu, 19 Desember 2020

Hak Istimewa

 


Ada yang merasa hidupnya mudah dan punya banyak hak istimewa atau privilege? Atau malah merasa menderita dan paling kurang? *angkat tangan*

Iya.. Saya. Aku. Gue. Abdi. Dalem. Me. Moi. Mich. ‘Ana. Мне. 나를. ฉัน.

Dah ah google translate sendiri sana.

Pernah banget merasa punya privilege atau hak istimewa yang kita sendiri nggak bisa memilih, pernah juga ngerasa kalah dengan privilege orang lain yang aku nggak miliki. Yeah, as you know betapa kecantikan saya menyaingi galgadot sampe bisa masuk bandara tanpa antri.

*becanda ding*

*belom pernah masuk bandara*

*paspor aja nggak punya*

*masuk bandara emangnya nggak harus antri ya emang?*

*tapi emang kata Zac aku paling cantik*

Ngelawak lagi gua tampol ya.

Kalau mau coba sebutin privilege yang aku sadari di hidupku, apa ya? Mmm.. let say lahir di Indonesia di saat perang dunia II usai, punya keluarga inti yang utuh dan sehat walafiat, punya anak yang terlahir sehat mental dan jasmaninya, punya imun tubuh yang cukup baik sehingga nggak pernah rawat inap di RS kecuali pas melahirkan, dan buanyak lagi pastinya.

Kalau pernah kalah atas privilege orang lain, contohnya ya bisa beli buku cetak pas sekolah karena orang tuanya mampu sedangkan aku harus fotokopi, punya motor pas masih sekolah sedangkan aku harus jalan kaki jauh demi nggak oper angkot, bangun lebih pagi karena harus ngetem dulu, dan nunggu reda pas hujan biar bisa pulang, buaanyak lagi kalau mau di kulik.

Jadi intinya, kita semua punya privilege,lho! Sekecil dan seremeh apapun bagi kita bisa jadi hal yang berharga dan nggak dimiliki orang lain. Jadi daripada fokus iri dan nyinyir dengan keistimewaan yang dimiliki orang dan nggak kita punya, mending kita hitung sendiri privilege kita dan merasa bertanggungjawab atas itu.

Misalnya kamu merasa cantik, ya alangkah baiknya kamu lebih berperan untuk membuat orang bisa merasa, membuat, dan menyadari bahwa dirinya cantik. Kamu mewarisi kekayaan tujuh turunan, ya buat hartamu bisa bermanfaat untuk banyak orang. Atau kamu terkenal, buat kepopuleranmu itu bisa membuat suara-suara orang yang punya nilai baik tapi tidak terdengar jadi tersebar luas.

Nggak perlu hal besar, mulai aja satu langkah kecil, mulai untuk kebaikan satu orang, yang terdekat, atau yang lewat didepan matamu, yang kamu nggak kenal bahkan. Membela temanmu yang korban bully di kelas mungkin, beliin sarapan buat polisi cepek yang rutin nyebrangin kamu, atau iseng aja doain ojek online yang habis anter orderanmu lewat chat biar selalu sehat dan lancar rejeki.

Yuk mulai satu hari ini.

 

Love,

 

Chely

 

Jumat, 18 Desember 2020

Review Ramuan Cinta by Muti

 



Disini aku mau kasih review jujur tentang Ramuan Cinta by Kak Muti. Ini udah kali ke tiga repeat order Ramuan Cinta. Yang belum tau, Ramuan Cinta apa sih? No, bukan jampi-jampi biar percintaan kalian bisa lancar. Ini adalah ramuan herbal yang dapat mencegah dan mengobati bermacam-macam penyakit.

Berawal dari follow IG @rumah.jljaksaagung.tour travel dari lama karena aku pernah di bidang perhotelan dulu. Liat feed promosinya Ramcin by Kak Muti kok rasanya pengen cobain pas aku punya keluhan kesehatan.

Aku orang yang nggak asal dalam melangkah (cie!). Jadi aku cari tahu dulu tentang Ramcin ini sebelum beli. Baca testimonial, baca penjelasan lengkap dari Kak Muti, cari tahu bahan dan proses pembuatannya. Setelah udah mantapin hati, baru mutusin buat order.

Oh iya, aku juga mau bilang ini review jujur secara cuma-cuma karena mau bagi info bermanfaat aja. Bukan endorse ataupun promosi berbayar ya. So, langsung aja aku kasih tahu apa aja manfaat Ramcin yang sudah aku rasakan sendiri.

1.       Keputihan Hilang

Tahun ini kayaknya tahun stress buat banyak orang, ya nggak? Banyak hal yang bertubi-tubi menimpa kita semua. Termasuk juga efek pandemi seperti kondisi keuangan, sosial, karir, semuanya ikut berubah kan? Sampai-sampai disebut dengan istilah new normal.

Aku yang selama ini belum pernah bermasalah dengan keputihan tiba-tiba aja merasakan. Mungkin banyak juga yang dulunya belum pernah mengalami terus tahun ini juga lagi terganggu dengan keputihan yang nggak normal. Sudah coba obat apotek yang disaranin temen, sempet reda beberapa bulan, terus kambuh lagi karena badai susulan. Ehe..

Aku sampe bingung, hati dan pikiran udah merasa nggak ada (baca: sudah kebal) masalah. Minum obat apotek lagi udah nggak mempan. Tapi setelah cobain rutin minum Ramcin dan ngikutin sesuai instruksi, dalam 2-3 hari udah bisa merasakan prosesnya. Semakin hari makin berkurang rasa gatal, keputihan mulai normal dan berangsur sembuh!^^

2.       Stamina Terjaga

Bu ibu, siapa yang sering kesemutan, cung? Hehehe. Sejak jadi ibu rumah tangga pasti lebih banyak kegiatan rutin yang nggak bisa di samakan dengan olahraga. Meskipun sering gerak seperti nyapu, ngepel, nyuci, masak, tapi otot yang dilatih itu nggak sama dengan olahraga yang benar. Jadi memang harusnya kita itu rajin olahraga ya, eonnie!

Nah, awalnya cuman niat menormalkan keputihan. Aku yang biasanya merasa pegel-pegel, kesemutan karena terlalu lama baca buku atau main HP, atau berbagai keluhan tubuh usia 25 ke atas (xixixi). Setelah minum Ramcin secara rutin, rasanya badan lebih enak aja, nggak gampang capek, lebih segar dan bugar setelah bangun tidur.

3.       Pencernaan Membaik

Aku punya maag yang sering kumat-kumatan. Udah bobrok banget ini lambung karena pola makan yang buruk. Suka pedes, soda, kopi, telat makan. Jadi kalau kondisi lambung lagi nggak pas, salah makan dikit langsung kambuh.

Saking parahnya, udah nggak bisa lepas dari stok jahe keraton di rumah karena nggak mempan mau minum obat maag, selain aku juga nggak suka minum obat dari dulu. Sampe pernah di bully temen yang owner sebuah cafe, masa temen-temen pada pesen minuman yang enak-enak, aku malah minum wedhang uwuh. Huhuhu.

Suatu pagi setelah rutin minum Ramcin, aku buka kulkas dan ada susu cokelat yang menggodaku, aih. Aku ambil dan aku teguk, glek glek glek ah..

Allah! Baru inget belum sarapan, pasti kambuh bentar lagi deh, kataku dalam hati. Ternyata sampe di kantor pun seharian perutku aman-aman aja. Terharu banget.

Makan pedes sewajarnya, minum kopi secukupnya, udah bisa menikmati hidup lagi. Huhuhuhu. Nggak 100% hilang begitu saja maag dari hidupku. Masih ada kumatnya kalau aku lagi keterlaluan bandelnya, hiks. Tapi ini udah Alhamdulillah banget jauh membaik dari sebelumnya.

4.       BAB Lancar

Sekitar hari ke 1 sampai ke 5 konsumsi Ramcin, aku jadi bolak-balik ke kamar mandi. Sering banget pipis dan BAB. Bahkan pernah yang sehari 4 kali, tapi nggak sakit perut yang gimana-gimana. Ya mules biasa aja berasa kebelet gitu. Ternyata banyak sampah di dalam tubuhku yang harus di detoks kayaknya.

Perut berasa lebih enteng dan nyaman kalau kotoran yang harus dibuang hilang kan? Bukan tipu-tipu memang. Aku merasakan sendiri enaknya punya pencernaan lancar dan tubuh yang bersih dari ‘sampah’. Rasanya seperti menjadi Iron Woman! *pegang setrika*

5.       Jerawat Berkurang

Masih nyambung dengan tahun penuh tekanan ini. Selain nggak pernah keputihan, aku juga nggak pernah jerawatan parah. Sejak pertengahan tahun kemarin jerawat nggak pernah absen dari wajahku. Padahal biasanya aku tumbuh jerawat 1-2 aja kalau mau menstruasi.

Sejak minum Ramcin, jerawat lebih cepet mengering dan berkurang meski nggak serta-merta menghilang. Usut punya usut, aku baru ngeh ternyata skincare ku expired dong! Itu juga punya andil penyebab jerawatanku ternyata. Hehehehe.

Aku belum ada budget buat beli yang baru. Maaf ya wajahku, aku dudul dan pelit sekali sama kamu. Viva face tonic aja dulu ya. Yang penting Ramcinnya rutin juga. Wink.

6.       Wajah Cerah

Bangun tidur ku terus ngaca. Hehehe. Kebiasaan pas perawan bangun tidur langsung bercermin karena ngerasa cantik alami. Setelah menikah, kantung mata makin hitam, garis halus mulai menyapa, wajah kusam karena uap kompor atau jemur baju. Masih tetep merasa cantik karena punya anak yang bucin sama mamanya.

Sering banget Zac bilang, “mmm.. cantiknya mama”, “mama cantik meski ndak pake listip”, “mama cantik meski ndak dandan”, “mama tambah cantik kalo dandan”.

Tapi sejak minum Ramcin, kata-kata itu nggak kayak abang-abange lambe saja karena merasa tervalidasi liat wajahku cerah, segar, merona. Yang paling jelas itu dari bibirku yang biasanya pucat karena cenderung darah rendah, jadi lebih berwarna alami.

Sepertinya karena darah yang lancar jadi efeknya kemana-mana ya. Aku nggak lebih paham dan bisa jelasin secara ilmiah, makanya aku bicara sesuai manfaat apa yang aku rasakan.

7.       Kulit Halus

Ampas dari Ramcin ini aku nggak langsung buang gitu aja. Selalu aku simpan dulu di kulkas karena bisa dipakai masker atau lulur pas luang. Efeknya, jerawat diwajah makin cepat matang, kulit juga halus sekali setelah pakai lulur dari ampas Ramcin. Biasanya aku pakai pas weekend sebelum mandi.

Setelah di bilas dengan sabun pasti masih ada bekas kuning dari kunyit, tapi nggak yang sampai kayak Minion dan Sponge Bob gitu kok, hyung. Mungkin bekas kuning di kuku jari aja yang agak bertahan lebih lama. Tidak terlalu kentara dan mengganggu penampilan sih menurutku.

Itu tadi efek nyata yang udah aku rasain dengan konsumsi Ramcin. Tapi selain mengandalkan Ramcin, kita juga harus jaga asupan dan perbaiki pola hidup ya. Penting juga untuk mengikuti instruksi cara mengkonsumsi yang benar biar hasilnya bisa didapatkan secara maksimal. Seringkali, tubuh kita ini rusak karena kemalasan kita sendiri buat menjaga kok.

Aku mutusin terus konsumsi ini buat jadi salah satu upaya menjaga kesehatan tubuh. Banyak manfaat lain yang kalian bisa lihat dari testimoninya. Yang aku pernah tau bisa untuk diet, bahkan program kehamilan. Masya Allah.. Keren ya! Sangat inspiratif dan punya banyak impact. Semoga suatu saat aku bisa punya bisnis yang keren dan berkah seperti Kak Muti. Aamiin.

Sekali lagi, aku nggak promosi maupun di bayar sama sekali. Postingan ini tribute to Kak Muti, karena aku merasa dia berbisnis dengan sepenuh hati, nggak hanya berorientasi uang saja. Aku juga pengen aja membagi info bermanfaat biar kita semua bisa sehat sama-sama dengan ramuan herbal.

Jadi kalau kalian bisa bikin sendiri tanpa harus beli Ramcin ya, monggo, malah bagus. Allah menciptakan segala penyakit beserta obatnya, aku percaya banget itu. Jadi jangan terlalu bergantung dengan obat-obatan ya.

Saranku, konsumsi yang alami dan berasal dari tanaman herbal lebih diprioritaskan daripada obat buatan para ahli yang teruji secara klinis. Kenapa? Nggak akan aku jawab lebih lanjut disini karena nanti dibilang konspirasi. Hehehe. Bubye!

 

Senin, 30 November 2020

Melihat Rumput Tetangga

 


Mau punya pasangan sabar, cantik, pinter, jago masak, sholehah, rajin beberes rumah, bisa nyari duit juga? Sebaliknya juga buat yang perempuan, pengen punya pasangan yang ganteng kayak oppa-oppa, sixpack, lemah lembut, sabar, pengertian, jago berantem, mau bantu kerjaan rumah, pinter jaga anak?

Woi! turun.. jangan ketinggian. Ntar jatuh, sakit.

Jodoh itu bagiku kayak kepingan puzzle yang pas di kita. Tau kan bentuk kepingan puzzle? Pecitat-pecitut sana sini, ketemu kepingan pecitat-pecitut lainnya, eh lha kok ya bisa jadi utuh ya? Bukan rahasia ilahi. Dari pengalamanku sendiri, ternyata bisa kita nalar pake otak kok.

Ndak kaget saya mah liat orang sabar jodohnya sama yang emosian. Yang teges sama yang letoy. Yang mandiri sama yang manja. Yang cakep sama yang ehem.. yang biasa-biasa kek kita-kita inilah.

Ya karena secara scientific kutub magnet itu saling tarik menarik kalo berlawanan. Wis dari sononya diciptakeun begindang. Positif sama negatif itu berlawanan, tapi ya nempel tuh. Coba kalo positif sama positif atau negatif sama negatif. Mau ditempelin juga akhirnya terpisah. *KUMENANGIS... membayangkan...*

Yak. Jadi sampe mana tadi?

Iya gitu.. boleh sih, manusiawi lah pengen yang terbaik buat jadi pendamping hidup. Tapi disini gue cuman ngingetin aja, jangan halu atuhlah.. realistis aja. Liat kenyataan yang terpampang nyata disekitar kita. Yang paling penting itu kita tahu siapa diri kita, apa tujuan kita, apa hak dan kewajiban kita, gimana cara penerapannya di kehidupan kita yang makhluk sosial ini. Dah. Simple. *ditabok netizen*

Saya nih misalnya.. (mohon izin ngebahas diri gue nih) Orang yang menjaga kestabilan. Ketemunya sama orang yang detik ini merah detik berikutnya kuning. Kontras bat woi.. pink dulu kek. Ya.. emang gitu kenyataannya. Kenapa bisa? Karena rumus tadi, yang positif negatif tadi itu loh. Dan karena manusia itu kompleks juga yah. Punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Unik.

Selain gue dan pasangan saling melengkapi di plus minus masing-masing, kondisi atau keadaan juga seringkali jadi penyeimbang. Misal ada masanya kita butuh keputusan spontan di saat genting, aku yang stabil ini kudu mikir sepanjang jalan kenangan, plan A plan B sampe plan Z, gimana biar ga gimana biar ga gimana biar ga gimana. Pasangan gue enak aja mutusin hal kaga pake mikir atau cuman mikirin sesuai kondisi detik ini.

Ndilalah, it works. Pernah ngalamin kayak gitu? Pasti pernah.. ta kasih contoh lainnya wis..

Aku lagi aja contohnya, aku ndak suka ngerasani (baca: membuat orang tidak suka saat merasa dibicarakan) soalnya wahaha.

Aku bukan orang yang gampang emosional, runut sama yang sebelumnya aku orangnya stabil ya. Mau marah juga mikir dulu sampe bener-bener ngerasa proporsional marahnya. Dapet pasangan yang sumbu pendek. Kalo dipikir secara eksplisit, harusnya kita emang nggak boleh emosional kan dalam hal apapun. Harusnya aku yang bener gitu lah in other words.

Tapi ternyata pasangan yang ngamukan itu juga bermanfaat lho, sometimes. Aku jadi kayak dapet pelindung dari orang-orang yang mau bersikap tidak baik terus inget bojoku ngamukan. Jadi lebih segan gitu, ya to? Kamu wedine karo bojoku tok kok emang..

Dulu wajar aku mesti ngerasa, "kok aku tok yang sabar, kok aku tok yang ngalah, kok selalu aku yang berperan mendinginkan suasana, blabla..", Sekarang udah lebih ngenal diri sendiri. Nerima diri sendiri, Jadi bisa lebih ngenalin orang lain juga. Nerima orang lain juga. Pasanganku dalam hal ini.

Jadi ya sudah sadar, ya emang kalo dibanding pasangan aku orangnya lebih sabar, jadi wajar kalo aku yang ngalah duluan, yang mendinginkan suasana pas lagi panas, yang berusaha (((MENJEMBRENG))) permasalahan karena aku yang lebih bisa jernih duluan pikirannya. 

Toh aku mau ngikutin marah-marah juga selalu jadinya nyesel di akhir. Nyesel kok marah-marahku nggak proporsional gitu. Masalahnya seupil marahnya segentong. Bayangin kan harusnya upilnya segentong dulu baru aku boleh marah segentong biar sesuai porsi. #jangandibayangin

Masalah itu pasti kecil kok kalo udah di kupas-kupasin. Makanya sebelum marah-marah, coba deh sama-sama diskusiin, mengupas masalah secara tajam, setajam...

*yok kita sebut bareng*

*buat yang ngerti-ngerti aja*

Jadi nggak ada tuh kata-kata menyakitkan yang seharusnya nggak perlu diucapin atau nggak nyambung sama permasalahan keluar sia-sia dari mulut. Dan terbukti memang, pasangan bisa lebih ngikutin akhirnya.

Tiap manusia yang waras punya hati nurani yang selalu jadi pengingat kok sebenernya, mana yang baik dan enggak. Cuman seringkali emosi itu bikin salah dan benar jadi keliatan kabur. Orang marah tu karena ngerasa "gue bener elu salah", atau "eh iya kok elu bener gue yang salah doh malu lah minta maap pokoknya elu aja minta maap".

Jadi antara belum paham masalah, emosi dan ego campur jadi trio kwek-kwek. Makanya kalo marah kebanyakan kan begitu yang keluar dari mulutnya, wekewekewekewek.

Terus apa lagi ya.. hehehe

Ya pada akhirnya perlu nerima kenyataan kalo Tuhan itu Maha Adil. Ada orang yang ketika ngeliat pasangan lain kok kayak,”jangan-jangan kita jodoh yang tertukar”, “harusnya dia yang bisa sesuai kebutuhanku”, “beruntungnya dia dapet pendamping kayak gitu”, karena ternyata ngerasa banyak kecocokan dengan yang bukan menjadi takdir kita.

Ya emang ada kok diluar sana yang sesuai dengan mau kita, yang mungkin juga sebenernya mau sama kita, kutub positif itu bisa kok ketemu kutub positif, kutub negatif juga bisa ketemu kutub negatif. Ketemu doang tapi, ndak jadi jodohnya. Auh..

Ya karena itu tadi, Gusti Maha Adil. Udah mutlak jadi sifat Allah. Bayangin nih.. orang ganteng ketemu orang cantik, sama-sama sabar, sama-sama pinter, sama-sama rajin, sama-sama berakhlak dan punya habit baik. Apa nggak jadi sasaran pembunuhan itu? Hehehe

Kalo ada pasangan-pasangan yang terlihat sempurna tanpa cela, itu ya karena mereka kerjasamanya baik dalam berkonspirasi dan kontrasepsi. *halah*

Kalo ada pasangan yang pernah bersama terus cerai dan tetap berhubungan baik, ya karena mereka masa kerjasamanya habis aja. Jadi kerja sendiri-sendiri dan bahagia masing-masing.

Kalo ada pasangan yang cekcok sampe kakek nenek kaga ada akurnya? Ya mereka lagi berpolitik aja dengan kesepakatan genjatan senjata. Belum dan tidak siap menghadapi risiko lain. Jadi milih risiko yang udah terlanjur aja dah.

Kalo ada pasangan yang pernah bersama terus cerai masih aja cekcok? Mungkin salah satu atau keduanya sakit mental menahun yang diturunkan dari pasangan kakek nenek kaga ada akurnya dan berpolitik dengan kesepakatan genjatan senjata tadi. Beb, sadari kamu sedang sakit. Karena lahir dari dan dibesarkan oleh orang tua yang nggak bahagia.

Yuk sembuh.

Lagi nggak bikin postingan bermanfaat nih. Cuman lagi jalan-jalan aja ini liatin rumput tetangga yang macem-macem. Sekian. Bubye.


Love,

 

Chely

Sabtu, 18 Juli 2020

APA YANG MEMBUATKU JATUH CINTA?





Ngomongin cinta yuk? Hahaha. Gegara ikutan give away buku di instagram nih mood cinta-cintaannya jadi mode ON. Jadi give away nya tuh disuruh jawab pertanyaan, apa sih yang bikin kamu bisa jatuh hati?
*auto kdrama backsound*


Aku nggak baca komentar lain sebelumnya, langsung ngetik aja jawabanku apa, nggak panjang-panjang amat, tapi cukup merangkum semuanya. Terus klik enter deh.



Habis itu baru aku baca-baca komentar lain, ternyata yang lain pada nyebutin kualitas-kualitas dalam diri seseorang yang bikin jatuh cinta. Terus aku langsung mikir, Tuhan.. mengapa aku berbeda? LOL. Sempet mikir ulang, apa jawabanku salah ya, pertanyaannya kan apa yang bikin aku jatuh cinta sama seseorang, ya kan aku tinggal menggali perasaan aja toh pengalamanku seperti apa.


Nggak salah kok ternyata ya.. tiap orang punya pandangan dan pengalaman berbeda dan emang aku jatuh cinta bukan hanya karena melihat sisi kualitas seseorang aja. Karena ya setiap orang pasti punya kan? Cuman aku ngejawabnya dengan perspektif berbeda aja. Mereka yang nyebutin kualitas-kualitas seseorang yang bikin jatuh cinta juga nggak salah, bener juga. Jadi sudahlah mari kita salaman meski nggak lagi lebaran.


Poinnya, bukan berarti orang yang pernah bikin aku bisa menjatuhkan hati nggak punya kualitas yang mampu menarik aku, karena pasti semua orang, like EVERYBODY, has their own qualities. Begitu juga sebaliknya.. Everybody has flaws too.


Karena kalo flash back dan menarik sejarah, aku tuh nggak berawal dari perasaan jatuh cinta sama Yoki. Love at first sight.. apa itu? dipepet 2 tahun dengan berkali-kali nembak baru aku nerima cintanya setelah aku mutusin buat “oke, let’s do this TOGETHER”. Malah dia yang love at first sight katanya liat aku dikantor pertama kalinya. (FYI, kita dulu temen sekantor jaman kerja di hotel).


Sebelum sama Yoki akutu disakiti sama mantanku, chely yang polos dan naif dalam bercinta dibikin gamau pacaran lagi. Kapok. Nggak perlu diceritain detailnya, klasik. Sempet stress dan gemukan karena larinya ke makan donat 2 biji tiap setelah makan nasi pas break kerja. Perutku doang sih jadi buncitan banget sm pipi membulat, badan tetep gini-gini aja hehe.


Sempet ada beberapa yang PDKT meski aku udah bilang nggak pengen pacaran dulu. Ya si Yoki inilah yang ngeyel banget dan selalu bilang, “kalo gamau pacaran ya ayok nikah!”. Dulu ngakak-ngakak aja digituin, usia kami kan selisih 11 tahun. Jadi dalam hati kayak, “nih om-om ngocol banget dah” LOL.


Tapi pepatah jawa tresno jalaran soko kulino itu bener juga. Dari yang ngga suka sampe nggak mau kalo diajak jalan berduaan, mesti ngajak temen lain, sampe akhirnya mau kasih kesempatan buka hati dan pelan-pelan aku ngeliat potensi dari dalam diri Yoki ini. Jadi secara perasaan sebenernya prosesnya kayak ta’aruf, tapi ya nggak bisa disebut gitu juga. Karena prosesnya kan diawali dengan aku mau coba mengenali dia lebih dalam. Nggak ada rasa suka ato cinta diawal. Dan aku orang yang commit sama keputusanku. Sekali aku mau jalan, aku serius.


Dari dulu nggak punya sosok tipe pria idaman yang spesifik. Ya ada naksir-naksiran tapi jarang yang beneran jadi malahan sama yang aku taksir duluan, kebanyakan ya prosesnya ditembak-jadian aja. Umumnya remaja, sampe yang aku ngerasa paling serius sama yang terakhir sebelum Yoki dan disakitin. Tapi ngeliat Yoki ini emang kayak nggak banget lah saat itu wkwk. Nggak pernah terpikir sama sekali pokoknya kita mau jadi lebih dari temen.


Kayak ada feeling, why me bruh?
Kenapa sih nih om-om bisa gigih mau seriusin gue anak yang saat itu masih bau kencur? Jadi kami kenal pas aku masih sweet seventeen, buka hati buat dia pas umur 19, lamaran umur 21, nikah umur 22, dan Zac lahir diumurku yang ke 23 tahun. Umur abang ya tinggal ditambah 11 tahun dari umurku aja.


Cinta itu bisa ditumbuhkan. Kayak bibit yang disiram setiap hari, dipupuk, dikasi desinfektan biar ga ada hama, harus dirawat sebaik mungkin. Makanya, kalo dipikir lagi, dari awal aku nggak ada proses jatuh hati sama Yoki, tapi sekarang udah tahun ke-5 pernikahan kami. Ya karena aku mau merawat cinta itu, Yoki juga. Jadi jatuh cinta buatku bukan hanya awalan untuk sebuah hubungan aja.


Setiap hari aku harus jatuh hati kepada orang yang sama, setiap hari aku harus menjaga gimana biar cinta ini tumbuh dengan baik, dan nggak setiap hari hubungan ini baik-baik aja. Karena itulah aku punya perspektif lain untuk menilai apa yang bikin aku jatuh hati. Bukan hanya mencintai kualitas dalam dirinya, tapi juga mencintai sisi gelap yang cuman bisa ditunjukin ke aku, dan sisi terbaik yang bisa dicapai karena ada aku disisinya.



Love,

Chely

Selasa, 14 Juli 2020

BERPIKIR KRITIS

"Don't listen to the person who has the answers; listen to the person who has the questions."

- Albert Einstein -


Quotes yang mengawali postingan ini bikin aku mikir bahwa berarti, bahkan aku harus selalu mempertanyakan jawaban yang aku punya ya.. Dan itu yang bikin aku nggak merasa selamanya menjadi yang paling benar. Nggak selamanya aku harus dengerin diriku sendiri bahwa hal yang aku pegang selalu relevan.


Dari dulu aku selalu mempertanyakan hal-hal, kenapa bisa terjadi seperti itu, apa sih yang ada dibalik maksud seseorang ini, gimana biar masalah ini bisa nemuin solusi yang aku pahami sampe clear di aku, terus aku bisa jelasin sehingga orang lain bisa ngerti dan akhirnya bisa sepakat, atau bisa terjadi adanya saling kompromi satu sama lain.


Tapi ada kalanya dulu hasil pemikiranku itu nggak aku luapkan dan tuangkan ke dalam praktiknya. Seringkali aku pendam sendiri aja, entah biar bisa berdamai dengan keadaan, entah biar nggak terjadi pertikaian dengan orang lain, entah karena aku ngerasa nggak pantes aja buat bersuara.


Setelah melewati proses yang cukup panjang, sekarang ini aku ngerasa lebih berani bersuara. Aku berani punya pemikiran sendiri dan menyampaikannya. Meski seringkali harus terjadi pergesekan dengan orang lain, dan itu emang resiko yang wajar, tapi sejauh ini aku bisa handle dengan baik. Aku punya gas dan rem untuk bisa mengontrol seberapa jauh aku mempertahankan pemikirianku, seberapa jauh aku menanggapi perbedaan pendapat dengan orang lain.


Inilah hal yang lebih sulit dari berpikir kritis itu sendiri, yaitu ketika kita menyampaikan pemikiran kita ke orang lain. Karena nggak bisa dipungkiri emang perdebatan bisa sangat emosional ketika udah saling terpancing. Dan aku menghindari perdebatan yang udah ke arah nggak sehat. Ketika ada salah satu yang terbawa emosi, entah aku atau lawan bicaraku, harus ada yang notice untuk berhenti dulu.


Tapi ketika aku udah ngerasa lawan debatku ini udah nggak bisa diajak debat sehat, udah keliatan klo diem cuman untuk menunggu gilirannya mendebat neither being active listening, ya aku milih cukup sampe disitu aja sih, iyain aja biar cepet. Akan percuma kalo dilanjutin pun nggak akan nemu solusi yang dicari sebagai tujuan awalnya. Malah akan berimbas ke hubungan yang memburuk.


Toh aku juga nggak akan mau dipaksa asal sepakat gitu aja, at least aku udah coba ngerti dimana batasku. Dan cara untuk bisa notice satu hal yang menjadi fokus adalah impact, apakah hal yang aku perjuangkan punya impact yang baik untukku dan orang lain. That’s it. Kalo nggak, ya udah nggak perlu diperjuangkan untuk orang lain. Keep aja buat diterapkan diri sendiri di konteks yang tepat.

Jadi, critical thinking menurutku kalo dibuat alurnya kira-kira seperti ini :
Asking -> Searching for information -> Thinking -> Result of thought -> Application -> Impact


Proses critical thinking ini menurutku penting banget buat setiap orang disegala kondisi. Karena dengan ini, kita bisa melihat suatu masalah dengan lebih luas. Dan harusnya kita akan lebih bisa menghargai perbedaan pandangan karena kita terbiasa merunut pemikiran kita sendiri, jadi kita juga ga kesulitan untuk mencoba merunut pikiran orang lain.


Sebuah isi dari buah pemikiran adalah konten, sedangkan kondisi dimana pemikiran itu diterapkan adalah konteks. Jadi paling penting untuk diperhatikan adalah konteksnya dulu, baru konten. Karena belum tentu konten yang baik bisa diterapkan dengan tepat di konteks tertentu. Untuk itu, konteks dan konten ini saling beriringan.


Contohnya : Ada pria merokok dilantai dua sebuah restoran, sedangkan aku membawa anak makan dilantai dua resto tersebut karena ingin suasana outdoor. Secara implisit seharusnya pria tersebut tidak merokok ketika ada anak disekitarnya. Tapi karena dilantai dua tersebut memang ditujukan untuk smoking area, akan menjadi tidak tepat kalo aku menegur pria tersebut.


Jika dirunut, makan di restoran adalah konten. Konteksnya adalah area outdoor dilantai 2 restoran yang merupakan smoking area. Pertanyaan yang timbul, kenapa sih pria tersebut merokok didekat anakku? Kalo aku menegur dia, pasti dia menjawab karena memang disitu adalah smoking area. Jadi, lebih tepat untuk membujuk anakku turun ke lantai 1 biar ga kena asap rokok.


Meskipun aku ngotot marah-marah karena pria itu merokok didekat anakku, akan semakin terlihat konyol dan berpikiran dangkal karena aku memaksakan pemikiranku yang tidak sesuai dengan konteks meskipun yang aku perjuangkan adalah hal yang benar (tidak merokok di dekat anak demi haknya bernapas dengan udara bersih). Itulah pentingnya berpikir kritis dalam segala hal, untuk lebih menganalisa berbagai sudut pandang.


Dengan begitu kita memposisikan kita dengan helicopter's point of view. Kita bisa merunut pikiran kita sendiri, bahkan juga bisa menerima pikiran orang lain yang berbeda dengan pandangan kita. Kita nggak bakal gampang goyah dan bisa menjelaskan karena kita tau apa alasan kita atas pikiran yang kita pegang kuat. Kita juga bisa lebih menghargai apa yang dipegang kuat oleh orang lain, karena pemikiran kita sangat dipengaruhi oleh apa yang telah terjadi dan dialami selama hidup.


Ini masalah banyak sekali orang, lho!
Sering banget denger cerita hubungan memburuk hanya karena beda pendapat. Dimulai dari salah satu dan akhirnya bisa sama-sama emosional dalam menyampaikan pendapatnya. Padahal kalo kita bisa ngobrol dengan waras dan sadar, menaruh emosi dan ego jauh-jauh, fokus sama solusi, pasti bakal ada titik temunya kok. Entah itu salah satu dari yang terbaik, atau mengambil kesimpulan dari kompromi pendapat-pendapat yang berbeda.


Kenapa sih aku nggak gampang menjudge orang, mendahulukan untuk positive thinking, dan selalu mencari tahu apa alasan dibalik pemikiran seseorang. Karena aku juga mengalami rasanya nggak didengar keinginannya, nggak dipahami maksud tujuannya, bahkan di judge karena hanya dinilai dari apa yang terlihat dari luar. Aku ngalamin semuanya dan tau gimana rasanya. Jadi aku nggak mau orang lain ngerasain rasa nggak enak itu dari sikapku.


Jadi aku belajar untuk selalu berpikir kritis dan lebih berani untuk bersuara juga. Karena percuma ketika kita punya data tapi nggak disampaikan dengan kata. Sesuatu nggak akan bisa berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya. Tapi penting juga untuk berbicara sesuai dengan data, nggak cuman sekedar kata-kata. Nanti jadinya hanya berdebat untuk menang atas pembenaran. Bukan berdiskusi untuk mengkompromikan data yang paling tepat dalam suatu kondisi.


Semakin aku belajar berpikir kritis, semakin aku nggak nggumunan, semakin aku bisa menghargai orang lain dengan berbagai macam perbedaan cara berpikir, karena setiap orang punya pengalaman hidup yang berbeda. Sama sekali nggak ada yang sama. Jadi wajar banget kalo kita berbeda pendapat.


Dan punya pemikiran berbeda itu nggak apa-apa toh. Selama pemikiran itu nggak ngawur, dan bisa dipertanggungjawabkan. Karena syariatnya kan setiap orang pasti punya tujuan baik, dan kebaikan itu mutlak, harus dijalankan dengan cara yang benar pula. Kalo nggak, ya nggak bakal bisa tercapai tujuan kebaikannya. Pasti ada yang dirugikan.


To sum up, kita biasa berpikir orang lain bisa saja salah. Think otherwise. orang lain bisa saja benar bukan? sama juga sebaliknya. Mungkin saja kita yang benar, mungkin saja kita yang salah. dengan mindset yang open-minded, kita bisa memulai berpikir kritis dengan menerima segala kemungkinan yang ada. Seperti quotes penutup ini.

"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them."

- Albert Einstein- 


Love,


Chely