Tampilkan postingan dengan label THOUGHT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THOUGHT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2021

Hamba Kurang Ajar

 Jangan terlalu percaya sama aku lah, Tuhan..

Aku ndak sekuat itu, lho.

Selina ini, halah.. terlalu kecil buat dikasih keberanian sebesar ini, aku cuma 43 kg. Lawanku besar-besar kok ya dikasihnya takut ngadepin aku to, Tuhan?


Giliran Kau kasih aku takut, tapi kok ya takut buat nyakitin orang lain gitu lho. Nggak keren jadi kayak gitu disini, Tuhan. Remeh.. 


Iya iya, he em. Aku mbok suruh jd perantara kasih-Mu ke mereka gitu yakan? Lha mereka lo angel banget nyadari itu. Malah aku yang tukang sadar ini dikasi taunya cemburu-Mu aja. Biyuh..


Aku kurang mesra gimana to sm Engkau, Tuhan?

Ya emang aku agak nakal sama Engkau, lha siapa yang nyiptain aku jadi manusia? Hayo..


Manusia ya aku ini to, ya Allah? Kalo pengen yang manut nemen ya mbok aku dijadiin malaikat sekalian. Masa aku disuruh jadi manusia berhati malaikat kayak yang dibilang orang-orang?

Kesel aku, mangkel dengernya. Kok cik men. Pujian kok abot tenan..


Wistalah aku ini di nyek-nyek aja sampe habis dosaku. Trus jalan rejekiku di dunia lancar jadinya, lunas tanggunganku, sekiranya abotan amalku titik gitulah terus jemputen aku begitu aman.


Tapi kalo mau itung-itungan pun aku ga mampu beli kavling disurga kalo bukan karena cinta-Mu, Rahmat-Mu. Kontrakanku di dunia akhir tahun ini aja aku nggak tau juntrungannya lho, ahaha.


Sudahlah Tuhan.. jangan nesu sayangku..

Males ya sama aku?

Nanti malem aku dateng, kita ngobrol ya..

sini, peluk. Sakit semua aku.


1. 12. 21.

I dare YOU.


I'm just a 43 kg girl, I'm not even 28 yet.

Fucking thin and so weak.

At least give me good food or enough sleep, God.

I miss you so so bad, I don't want materialistic things here.

Take me after I finish everything.



No, You know this isn't my despair. I bought what You sold.

It's me, Selina. What did you expect?

I'd rather dead and meet You. You know that, God.


1. 12. 21.

Jumat, 25 Juni 2021

Awareness Atas Pilihan

Suatu pagi buta sekitar jam 01.00, aku mau tidur.

“Bentar, aku pengen cerita.. Bla bla bla bla.. menurut kamu gimana?”

“Oke. Faktanya kan ini itu ono. Terus mas ngerasa masalahnya dimana?”

“Ya karena aku pengennya begini, tapi malah begitu, trus lama-lama makin gini, itu juga gitu, kesel kan.”

“yaudah, liat kenyataan dulu. Dari awal mas udah milih itu, tau risknya apa ndak?”

“iya tau, tapi capek gitulo kalo gitu terus.”

“jadi dari awal mas tau risknya itu ya, tapi ngerasa capek, dan pengen ngubah kenyataan jadi kayak yang mas pengen?”

“iya..”

“Bisa nggak ngubah kenyataan dan lemparin resiko gitu aja?”

“enggak..”

“jadi pertama, tanya sama dirinya apa yang bikin capek, wajar nggak ngerasa capek, oh wajar ternyata, capek ya istirahat, atau berhenti sekalian ya monggo, mas yang pilih. Tentunya dengan risk lain yang mengikuti pilihan mas selanjutnya. Terus tentang nggak bisa jadiin kenyataan sesuai yang mas pengen, ya mau nerima apa mau merutuki? Pilih juga sambil nyadarin efeknya apa.”

“hmm.. iya..”

“yaudah gitu aja sebenernya kan hidup ini? Tentang memilih. Sadarin dengan penuh maunya apa, pilihan yang diambil dan resikonya, pertanggungjawabkan. Kalo tentang perasaan, jangan pernah di tolak, tapi digali lebih dalam. Soalnya hati buatan Allah ini nggak bakalan salah. Justru bisa nunjukin hal-hal yang benar kalo kita bisa ikutin. Masih ada yang ganjel?”

“hmm.. cukup kok, udah agak enteng..”

“Dengan mas coba cari insight dengan mau nanya dan nggak asal ngeluh aja, itu udah sebuah pilihan yang bagus kok.”

*****

Permasalahannya aku sensor ya, semoga tetep bisa dipahamin, kalo nggak paham ya lanjutin baca dulu aja. Hehehe.

Dari bangun tidur sampe tidur lagi, hidup ini isinya tentang memilih. Setiap pilihan yang kita ambil pasti punya resiko sendiri-sendiri. Nggak ada pilihan yang ga punya resiko. Tapi yang belum tentu pasti yaitu kita dengan sadar paham dan mau nerima resiko dari pilihan yang kita ambil itu. Ibarat air setetes aja pasti bikin getaran dipermukaan kolam. Hal sekecil apapun punya dampak untuk hal lain.

Misalnya bangun tidur, “mau bangun sekarang apa males-malesan dulu ya?”, “mandi air dingin apa anget ya?”, “pake baju yang mana ya?”, “minum pake gelas mana ya?”, “nyapa duluan tetangga itu apa nunggu disapa ya?”, “kok ada kucing ditengah jalan, aku pinggirin apa cuek aja ya?”, “nih orang jutek amat, jutekin balik ga ya?”, “kesel banget gue, marah-marah apa sabarin aja ya?”

Sehari kalo dihitung mungkin kita harus berjuta kali ambil pilihan entah hal kecil atau hal besar. Biasanya tingkat resiko juga sejalan dengan besar kecilnya pilihan yang harus diambil. Sadar dengan resiko ini bukan hal otomatis. Harus mau belajar dan melatih diri sendiri, karena ketika ada orang gantiin kita nerima risk dari pilihan yang kita ambil itu pasti terjadi hal buruk kedepannya.

Satu contoh kecil, misalnya kita mau ke ATM ambil uang selembar. Parkir motor nggak sampe semenit udah keluar. Terus tiba-tiba denger peluit padahal tadi nggak ada tukang parkir, motornya juga nggak dijagain gimana-gimana. Begitu keluar ATM enak aja tiba-tiba prat prit prat prit minta duit parkir. Habis dikasih duit langsung ngacir pula nggak dibenerin kek, nggak diseberangin kek.

“kasih apa nggak nih?”, habis ngasih, “kesel apa ikhlas nih?”

Kalo kita nggak mau nyadarin risk dari pilihan, mungkin kita otomatis mau kesel aja sama kang parkir. Kesel terus sampe rumah ngomel terus dalam hati. Tapi kalo mau berusaha nyari tau lebih dalem tentang pilihan kita tadi, kita nanya ke diri sendiri.

“gue kesel kenapa sih? Oh karena kang parkirnya nggak kerja bener tapi gue kasih duit. Wajar nggak gue kesel? Oh wajar sih. Tapi nggak bikin duit gue balik juga, malah bikin hati nyesek. Yaudah sih anggep aja tadi amal. Bukan tugas gue ngajarin dia ngelakuin kerjaannya dengan bener. Toh berkah enggaknya udah ada yang ngitung, Maha Adil pula. Gue cuma bisa ngatur amal gue sendiri.”

See? Bisa mahamin nggak proses berpikirnya dari contoh yang aku kasih. Duh maaf kalo aku nggak jago ngasih contoh. Intinya sih sering latihan self-talk dan kemauan buat menggali ke dalam diri kita sendiri. Karena pastinya akan sedikit lebih capek diawal dan butuh energi buat mikirin lebih matang pilihan yang kita ambil. Tapi menurutku worth it dan lebih memudahkan diri sendiri banget.

Tentang Berpikir Kritis

So, daripada asal milih yang keliatannya gampang, enak didepan, menuhin ego, tapi belakangannya bikin kita nggak siap nerima resiko dan sibuk nyari siapa yang salah, terus lupa kalo dirinya andil juga bikin pilihan, ya mending kan kita belajar mindfull dalam memilih. Seenggaknya kita siap dan bisa nyikapin sebelum resikonya bener-bener muncul.

 

Selina

 

Selasa, 15 Juni 2021

Tentang Jodoh

Mengartikan kata jodoh sendiri itu bagiku rasanya nggak bisa terwakili dengan kata-kata. Tapi kalo diibaratkan, jodoh itu emang kayak kepingan puzzle yang melengkapi kita. Bicara melengkapi, artinya secara posisi, jodoh kita adalah yang setara dengan diri kita, punya kelebihan yang mengisi kita, juga kekurangan yang bisa kita lengkapi.

Jodoh pasti bertemu? Maybe. I don’t know. Aku selalu menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa iya, bisa tidak, bisa iya tapi akhirnya tidak, bisa tidak akhirnya iya. Semua tergantung dengan setiap langkah yang kita ambil. Setiap orang punya cerita unik yang sama sekali berbeda tentang jodohnya. Dan itu membuat arti jodoh bagi setiap orang berbeda-beda pula.

Yang jelas, orang yang bisa menjelaskan jodoh itu apa, adalah orang yang sudah saling menemukan jodohnya. Karena ketika aku belum bertemu jodohku yaitu Abang, aku punya sedikit bayangan tentang apa itu jodoh, dan ternyata sama sekali nggak seperti yang aku bayangin. It’s just like a, snap! Aku nggak tau siapa, kapan, dimana. Dan kenapa-nya terjawab dalam proses saling belajar.

I don’t even know why can I said Yes. I mean, iya pastinya aku punya alasan saat itu atas pilihanku, tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar alasanku saat itu yang bikin aku dan Abang dipertemukan. God’s working on us, that’s true. Bahkan disaat aku sama sekali nggak minta dipertemukan jodoh di usiaku yang baru masuk kepala dua.

Abang dikirim Allah ke aku yang saat itu memang butuh dia untuk bisa melangkah ke step selanjutnya. Dengan kelebihan beserta kekurangannya. Rasanya kayak terlalu cepat, tapi setelah berdiri saat ini dan melihat ke belakang, aku nggak akan bisa sampai titik ini, nggak akan sebertumbuh seperti saat ini, tanpa mengambil kesempatan menikah dengan Abang saat itu.

Bertemu jodoh bukan berarti kita bakalan cocok dalam segala hal dan semua berjalan lancar. Justru, disini jawaban tentang “kenapa seorang dia” bakalan kita temukan. Setiap permasalahan yang menghadang, satu demi satu kita bisa lalui dengan cara mudah maupun sulit dengan dia. That’s why, ada kemungkinan juga sebuah pertemuan harus berpisah, dengan jalan perceraian.

Apa itu artinya kita salah mengira jodoh kita? Terserah gimana kalian menyebutnya, tapi bukan itu poin pentingnya. Jodoh bagiku bukan tentang nama spesifik yang tertulis di takdir kita. Jodoh itu tentang kita ditemukan dengan apa yang kita cari. Lucunya, seringkali kita sendiri nggak menyadari apa yang kita cari dan butuhkan. Manusiawi, ketika kita lebih sering peduli dengan keinginan.

Again, God’s hands working on us.

So, bisa jadi, sebuah perpisahan atau perceraian diakibatkan kita yang mendahulukan memenuhi keinginan dan mengesampingkan kebutuhan kita. Dan dalam perjalanan menghadapi ujian, kita baru menyadari bahwa hal-hal yang kita cari dan butuhkan selama ini nggak terpenuhi dengan seseorang yang sudah sesuai keinginan kita. See?

Kalau ada temen single yang cerita or nanyain, kapan aku ketemu jodohku? Aku cuma bisa bilang, jangan fokus dengan pertanyaan itu. Because no one knows. Aku cuman bisa kasih saran buat temuin dirimu sendiri dulu, penuhi dirimu sendiri dulu. Jangan berpatokan kebahagiaanmu belum lengkap tanpa bertemu jodoh. Jangan menggantungkan tujuanmu pada orang lain.

It’s okay untuk berdoa, minta ke Tuhan dipertemukan jodoh, bahkan dengan spesifik menyebutkan jodoh seperti apa yang diinginkan. Berdoa adalah kebutuhan kita untuk menyadari hal-hal yang kita butuhkan dan kita nggak punya kuasa untuk mewujudkan, dan kesadaran itu akan membimbing langkah kita mendekat menuju hal-hal terjadi dalam hidup kita.

Itu lebih baik dilakukan daripada kita hanya fokus dengan bertanya-tanya dan nggak sabar menunggu jawaban atas keinginan kita, padahal Allah yang paling mengerti kebutuhan kita. Trust Him. Jangan membuat diri sendiri kesulitan menjalani hidup dengan rasa syukur karena melewatkan hal-hal baik yang sudah Tuhan kasih, dan terus mengungkit hal yang belum tepat waktu untuk hadir.

Seperti yang sudah aku bocorin sebelumnya, ketika kita sudah dipertemukan jodoh nanti, kita maupun jodoh kita juga harus saling siap dengan rentetan ujian didepan yang mengikuti. Yup, it takes two to tango. Nggak bisa terus berjalan baik ketika hanya ada salah satu yang siap. Aku sendiri pun nggak tau apa yang akan terjadi didepan, apa aku bisa sama-sama dengan Abang seterusnya.

I have to be ready for whatever happens next, are you ready?

 


Selina

 

Senin, 07 Juni 2021

Mengenal Kesepian

 


Mikir apa sih pas nulis judul ini di draft? Wkwkwk

Kayaknya aku pas lagi ngerasa dan menerima perasaan kesepian hadir di usiaku yang ke 27 tahun. Dulu-dulu kayak cringe banget denger kata kesepian. “idih, nggak pernah tu gue.” Ngerasa suka banget sendirian dan nggak pernah ngerasa kesepian. Eh dasar congkak ya, sering banget diingetin Tuhan kalo habis ngebatin songong gitu langsung ditunjukin hal-hal. Ampun Gusti..

Kesepian tuh beda ya sama kesendirian? Kalo sendiri ya kondisinya nggak ada orang lain selain diri sendiri. Kalo kesepian itu ngerasa sendirian meski ada diantara keramaian ataupun ada yang nemenin. Aku orang yang suka dan sering banget menyendiri, bisa nyampur diantara keramaian juga. Tapi esensi dari judul ini apaan sih? Suka ngadi-ngadi kalo bikin draft deh.

“oke, gue ngerasa kesepian.” Adalah ketika aku ngerasa butuh seseorang, entah seseorang itu tau atau enggak kalo aku lagi butuh dia, dan diluar konteks dia nggak mau or nggak bisa ada buat memenuhi kebutuhanku. Padahal ada orang lain yang nemenin aku ataupun disekitarku, tapi aku malah berekspektasi ke seseorang yang nggak bisa ada buat aku.

Udah dasarnya aku jarang bisa bergantung sama orang, sekalinya ngerasa butuh sama seseorang, resiko handling rasa kecewa ketika orang itu nggak memenuhi kebutuhanku jadi sangat besar. Make sense sih sama kepribadianku yang nggak bisa nanggung-nanggung ini. Ya karena udah tau kelemahanku yang ini, mau gimana lagi kalo nggak dipeluk aja perasaannya.

Tayang aku.. uh..

*puk-pukin diri*

Iya udah diterima yok.. semua perasaan boleh dirasain kan? Yaudah ga apa-apa kecewa. Ga apa-apa kesepian. Yook diperbaiki lagi ekspektasinya biar nggak sedih-sedih banget ya. Udah sering denger kan jangan berharap sama makhluk, ya dasar makhluk juga tempat khilaf. Kan gue makhluk juga yakan? Dah yuk cup-cup, kayak nggak ada Allah aja sih.

***

Itu tadi aku recalled perasaanku yang ngendon di draft. Hehehehe

Sekarang mah udah nggak apa-apa, baek-baek. Alhamdulillah.

Jalan lagi ya? Cus gaskeun.

 

Chely

Senin, 19 April 2021

Tentang Tersinggung

 

Tersinggung itu ibaratnya dicubit tapi didalem hati ya nggak sih? Valid nggak sih perasaan ini? Ya valid, tapi apa serta merta orang yang bikin kita tersinggung adalah tersangka? Belum tentu. Bisa jadi sih kita yang berlebihan dalam merespon sesuatu. Kadarnya aja yang kadang nggak pas gitu. Bukan berarti kita yang salah karena merasa tersinggung, tapi apa perasaan itu sesuai dengan tempatnya?

Kalo bicara ukuran, seberapa jauh sih batasan sikap kita biar ga bikin orang tersinggung. Susah kan ya gimana ukurnya? Tersinggung adalah respon seseorang yang terjadi diluar kendali ketika kita bersikap atau berkata yang nggak bermaksud dengan sengaja menyerang dia. Tapi ada juga ya orang yang memang dengan sengaja menyinggung.

Terus darimana kita bisa tau orang ini menyinggung kita atau enggak, tersinggung atau enggak dengan perilaku kita? Kalo doi nggak mention kita secara langsung. Ya kalo ada yang mau disampein ngomong langsung aja ga sih? Jadi kalo lo ga bilang langsung ke gue ya ngapain tersinggung? Ribet eiy.

Mending gue ribet-ribet nyari tau pikiran gue sendiri, mau gue sendiri, kalo udah beres sama pikiran dan niat diri sendiri, yakin deh nggak ada waktu buat ribetin hidup orang. Sejatinya apa kan gitu. Apasih ah. Ga nemu istilahnya. Ga jadi bijak dah tu. Cita-cita psikolog hobi ngelawak mulu dah imut. Iiihh kalian pernah gemes sama diri kalian sendiri kayak gue sekarang ini? Apaansiii.

I can’t relate sebenernya dengan kegiatan singgung-menyinggung ini. Karena yang aku tanam ke diriku adalah terbuka dengan hal-hal diluar, tapi nggak mudah juga untuk bisa masuk ke hati dan pikiranku. Mau denger apapun, mau baca apapun, mau ngobrol apapun, tapi yang aku simpen ya yang lolos uji klinis aja. Elah, saring dulu lah bos.

Nggak mau terlalu jauh ngurusin kalo aku ga punya waktu buat cari tau apa latar belakang seseorang dalam bersikap. Makanya aku sering dibilang cuek banget banget. Nggak salah kok, aku emang cuek dalam banyak hal. Tapi juga punya sisi paradoksnya. Aku bisa begitu peduli to the bone dengan hal yang aku ngerasa emang layak buat dipedulikan.

Aku ngerasain banget sekarang ini makin melek perihal mana track tempatku berjalan dan mana track orang lain. Istilahnya bisa menempatkan diri, pahamin diri sendiri itu yang utama. Aku tau mana jalurku, aku tau mana batasku, dari situ aku jadi bisa tau mana batasku terhadap orang lain, pun batas orang lain terhadapku. Penjelasanku jelas nggak sih?

Pasti pernah kan ya, kita masih ada ribet sama pikiran orang lain yang mana kita sendiri nggak yakin bener, atau bahkan seringkali kita sok tau. Padahal siapa yang bisa tau dengan jelas pikiran orang sih kalo bukan dia sendiri yang ngomong langsung.

Misal pas mau ngelakuin suatu hal, kepikiran ntar dikira ini nggak ya sama orang, atau ntar ada yang tersinggung nggak ya kalo gue begitu. Lah kok jadi ragu sama niat dan tujuan sendiri sih? Malah sibuk menerka-nerka lubuk hati orang. Mana bisa kamu tahu, dia kan telor. Aigo.. tempe kemana ya?

Aku ada pengalaman lucu kalo diinget-inget sekarang. Kejadiannya udah lama sih, jadi pernah ada temen yang posting hal-hal emosional nih ya di sosmed. Aku nggak mau menjudge orang yang mau posting masalah atau hal-hal emosional, sosmed dia ya hak dia mau pakenya gimana. Saat itu dia kayak punya masalah sama seseorang gitu, tanpa mention postingannya ditujukan untuk siapa.

Karena dia termasuk temen baik (aku ngerasanya saat itu), ya aku tanyain. Hei what’s wrong? Ada masalah apa? Aku ngerasa itu track ku. Bentuk peduli dariku untuk temenku. Ya karena aku mikirnya kalo orang posting masalah dia di sosmed karena pengen ada orang yang tau dan peduli nggak sih? Kalo nggak pengen orang tau kan nggak mungkin di share to?

Berbekal pemikiran apa adanya anak-anak itu aku nanya baik-baik, kali aja dia butuh tempat meluapkan perasaan. Sekedar dengerin curhat, atau ngasih solusi kalo dia minta. Berakhir dijawab gapapa kok. Ya sudah aku simpulkan aku bukan orang yang dibutuhkan saat itu, atau ya mungkin dia ngerasa lega aja setelah berekspresi online, kali?

I don’t know. Aku tidak berspekulasi apapun selain oh ini orang butuh waktu selesai sama dirinya mungkin, aku step back dulu aja kalo gitu. Kan aku sudah nunjukin kepedulianku dengan nanya secukupnya tadi. Batasku ya sampe disitu karena dia ga mau membuka diri kan. Fair enough.

Long story short, sosmedku di block. Bahaha. Bego ga tuh gue?

Lah dia kenapa? Gue kenapa? Apaan sih ngapain gimana?

Berdebat nggak jelaslah saat itu karena gue nanya salah gue apa nggak dapet jawaban dan malah berakhir dia nggak mau kontakan lagi. I’m okay with that. Yang bikin ngganjel apa coba? Ya ngerasa bego aja, mikir, lhah ternyata yang dikata-katain di sosmed itu gue dan gue nggak ngeh, malah nawarin kuping meski ditolak. Lah? Mana ku tahu aku kan bebek~

Ya jadi dobel dobel kan begonya yak. Udah dikata-katain, pun nggak ngeh, malah ngasih effort, ternyata anu. Sampe speechless saking dongkolnya diposisi demikian saat itu. Ini tadi salah satu contohnya yang gue udah dapet validasi dari orangnya langsung, karena sekarang kita udah saling memperbaiki hubungan lagi. Hehe. Hai imut I love you tomat. Wkwkwk.

Usah risau, aku dan temenku satu ini udah baik-baik aja sekarang. Lebih baik dari sebelumnya malahan. Aku tuh nggak menghindari perdebatan, dengan niat fokus nyari solusi bersama. Jadi menurutku hal biasa ada gesekan dalam hubungan apapun. Justru aku ngerasanya, kita bisa makin mahamin seseorang kalo bisa solve problem diantara kita dengan baik.

Gitu lho guys. Jadi aku itu nggak gampang tersinggungan banget. Nggak gampang ngerasa berhak tersinggung kalo nggak nyebut nama. Gue itu peka, bersikap pake perasaan (logika juga pastinya), tapi nggak gampang tersinggung. Keduanya beda banget lho tracknya, yakaan? Mindset paling pas buat aku pegang ya buat tau apa yang dipikirkan diri sendiri daripada nebak-nebak orang.

Nggak perlu nebak-nebak pikiran orang, ke GR-an kalo orang mikirin kita, peduli perilaku kita. Kayak kita ini bagian dari dunia seseorang banget. Gapapa kita bego buat nebak-nebak pikiran orang sih, menurutku sangat aman cuy, hati kita bersih cuy. Kasian hatinya kalo ngerasa tersakiti atas pikiran kita sendiri yang mengira seseorang jahatin kita.

Aku tau niatku, tujuanku, sikapku, dan terbuka dengan apapun. Mau masukan, teguran, asal dikomunikasikan dengan baik. Aku pasti berusaha banget ngasih effort terbaik kok kalo emang ada hal-hal yang aku lakukan menyinggung seseorang dan dia mau bilang or nanya langsung. Nggak gengsi juga buat minta maaf asal sudah saling clear dengan persepsi masing-masing.

Dah cukup lah capek edit mulu dasar perfeksionis. Buruan posting. Bye.

 

"The version of me you created in your mind is not my responsibility"

-Unknown- 



Chely 

Jumat, 26 Februari 2021

Persahabatan Lawan Jenis

 


“cowok sama cewek nggak mungkin bisa sahabatan.” katanya. Aku hanya diam memikirkannya sambil mengingat-ingat setelah Dico dikhitan, aku yang mengipasi penisnya saat mengeluh kepanasan. Atau saat aku menghiburnya dengan cerita lucu, senang mendengar tawanya yang seperti sedang kumur. Klek-klek-klek-klek-klek.

Dico selalu datang kerumah tanpa mengetuk pintu, kadang tiba-tiba membuka gorden kamarku yang sedang ganti baju. Seringkali saling ngobrol dengan berteriak saat mandi, karena kamar mandi rumah kami berdempetan. “Adus ta dik..??”, “aku sek sikatan sel..!!!”, “iyoo! Aku sek pipis..!!!”, “mari adus ta nang omahmu yo..!!!”. Dungdungdung! Kami berbalas klotekan tembok jeding.

Mengobrol tentang UFO, dajjal, siksa kubur, sejarah injil, hal-hal kontroversial, cewek pertama yang ia taksir di SMP, atau sekedar memanjat portal setelah sahur sambil menunggu subuh. Aku bahkan lebih sering memakai skateboard milik Dico daripada ia sendiri.

Aku pernah tidak sengaja menusukkan pensil hingga bauksitnya patah dan tertinggal dibalik telapak tangannya, aku juga pernah mencoret dahinya dengan pensil hingga menangis. Dia pernah mendorongku masuk ke got, juga pernah meminum es moni yang aku titipkan dikulkasnya.

Kami sering saling jahil, tapi juga sering saling berbagi es wawan. Jika dipikir begini, aku baru sadar kalau kami tidak pernah bertengkar. Diingat-ingat lagi, Dico kecil memang lebih sering menangis karena aku daripada sebaliknya. Chely kecil jarang menangis kecuali karena di ‘hajar’ orang tua. Hehe.

Dimana ada Chely, disitu ada Dico. Sempat menyebar seantero RT wilayah rumahku. Saking lengketnya persahabatan kami. Selisih usia kami setahun, ia lebih tua. Tapi kita menjadi teman sekelas saat SD. Dan tetap dekat hingga ia lulus kuliah dan aku bekerja meski tidak lagi satu sekolah sejak SMP.

Mundur ke masa SD, saat mas Bagus mengajakku bermain basket di lapangan di jam istirahat. Saat Fery meminta uang seratus rupiah karena kehausan setelah olahraga. Atau saat Eko dan Dion meminta maaf setelah menjegalku saat berlarian di sekolah, dan Fery yang membersihkan lukaku dengan revanol, mengelapnya dengan kertas bekas ujian. Bekas lukanya masih ada setelah 20 tahun.

Anak laki-laki tidak buruk untuk dijadikan sahabat, bagiku yang perempuan. Mereka meminta maaf ketika candaannya membuatku menangis, menyampaikan permintaan dengan jujur dan sopan, tidak melirik sinis kulitku yang tersengat matahari, tidak peduli dengan gigi kelinciku yang besar. Bahkan mereka merasa tidak perlu membahas hidungku yang pesek.

Anak lelaki sungguh solid. Beberapa pendatang baru di kelas menyukaiku, mungkin karena aku menjadi ‘keset welcome’ atau penyambut agar mereka tidak merasa asing, dan selalu membela saat mereka di bully. Ada yang menyatakannya langsung, dengan surat, atau lewat teman. Sekelompok dari mereka bahkan membuat kesepakatan siapa yang boleh menyatakan dan siapa yang mengalah.

Kiyowo sekali hyung.

Anak lelaki sangat simpel. Aku tidak perlu pura-pura baik dengan teman yang tidak aku sukai. Ketika aku kesal dengan kenakalan mereka, marah atau menangis saja, mereka akan meminta maaf. Jika ingin membalas, aku melaporkan mereka pada guru untuk melihat mereka dimarahi atau di hukum sebagai balasannya. Jika terpaksa, aku kadang menggigit tangannya. Ehehe.

Namun mereka tidak mengelak atas kenakalannya. Justru setelah dihukum, mereka akan melirikku dan berbalas senyum geli. Kami akan main bersama lagi tanpa ada dendam. Anak laki-laki memang nakal dan mengganggu, itu cara mereka untuk mencari dan mencuri perhatian. Kalau terganggu tinggal lawan atau menangis saja. Seringnya, mereka tidak akan membalas anak perempuan.

Saat SMP, jam istirahat aku duduk dikelas sendirian, Saka mendekatkan kursinya dan bertanya “Chely kenapa diam saja? kamu sedang sedih kah?” lucu mendengarnya selalu memakai bahasa baku dengan nada gagap padaku. Atau Rocky yang tiba-tiba menarik tanganku dan mendudukkanku diujung belakang ruangan kelas, “Chel, kamu kok diem ae kenapa? Ceritao ke aku kalo ada masalah.”

Saat SMA pun, ada si kikuk cerdas dan ikonik yang mendukungku secara underground. Si jahil yang memanggilku teteh dan sering membantu tugas pemrogramanku dan juga berbagi cerita. Dan Si cerewet menyebalkan namun jadi kontak pertama saat butuh kehadirannya. Tidak perlu aku sebut namanya karena kemungkinan besar kalian membaca dan aku merasa geli menyatakan ini. Haha

Ada juga teman luar sekolah yang tidak tau cerita hari-hariku, namun selalu menjadi pembeli pertama apa yang aku jual melalui sosmed. Atau randomly bertukar cerita tentang masalah hidup dan meminta pandanganku, tanpa harus sering bertemu. Atau menjadikanku orang pertama yang mengetahui kabar baik maupun buruk darinya.

Bukannya tidak punya sahabat perempuan. Tapi kenyataannya, perempuan cenderung sering mengganggu kenyamanan hidup perempuan lainnya. Akan aku ceritakan di post lain nanti. Disini aku hanya ingin mematahkan stigma dengan menceritakan tentang diriku yang cenderung nyaman bersahabat dengan laki-laki.

Emangnya apa asiknya bersahabat dengan laki-laki?

Mereka tidak perlu validasi ataupun syarat tentang persahabatan.

Tidak perlu memakai gelang persahabatan dan sering kemanapun bersama, tidak perlu mengumumkan bahwa Seli adalah sahabatku dan sebaliknya, aku adalah teman yang selalu ada untuk Seli dan sebaliknya. Tidak ada yang boleh menggantikan posisiku dan sebaliknya. Enteng, tapi ada saatnya juga menyelam begitu dalam. Tidak kecipak-kecipuk di permukaan saja. Duh. Analogiku.

Intinya adalah simpel nan tidak rumit. Saling support dan terbuka. Bahkan meski seiring berjalannya waktu kami tidak lagi berbicara atau kontak karena kesibukan ataupun sudah berkeluarga, mereka tidak akan terlupa. Yang aku tau, mereka ada dan pernah sangat berjasa di perjalanan hidupku. Bukankan itu gunanya sahabat?

Mereka tidak akan membicarakan tentangmu di belakang. Mereka akan membelamu bahkan. Jika tidak memungkinkan, mereka akan menjadi informan. Menanyakan hal rancu yang mereka dengar tentangmu, tanpa segan menegur dan menasehatimu jika ada yang salah. Yang pasti, memberimu support.

Bukan, aku tidak sedang men-judge persahabatan sesama perempuan adalah fake. No. Aku juga punya sahabat perempuan. Sekali lagi aku tekankan, aku ingin mengangkat cerita tentang “cowok dan cewek bisa bersahabat juga kok”. Titik.

“cowok dan cewek kalo bersahabat, pasti salah satunya ada yang punya perasaan lebih” katanya. Kalian yakin suami kalian tidak ada apa-apa dengan sahabat laki-lakinya? Atau sebaliknya juga. Perempuan yang bersahabat dengan perempuan tidak ada yang menaruh curiga bahwa diantara mereka ada apa-apa. Kenapa seyakin itu?

Think.


Love,


Chely

Selasa, 12 Januari 2021

Label Diri

 

Label diri seringkali didapatkan dari orang lain dalam proses pertumbuhan diri seseorang. Saya sendiri juga tidak lepas dari label yang diberikan oleh lingkungan sekitar, baik orang terdekat, maupun orang yang sama sekali tidak mengenal saya secara pribadi, atau hanya mengetahui dan mengenal saya secara visual, yang bisa menyebutkan nama saya ketika melihat wajah saya.

Seringkali yang terdengar dan menancap pada pikiran dan hati adalah label negatif. Seperti pemalas, bodoh, ceroboh, pembohong, lelet (lamban), dan label negatif lainnya pasti pernah Anda dapatkan bukan? Sebaliknya, label positif ini juga biasa kita didapatkan dari orang lain yang puas atas ekspektasinya terhadap diri kita.

Memberi label negatif ini bisa dikatakan sama dengan merundung atau bullying secara verbal. Karena efeknya menjadikan perasaan rendah diri, merasa tidak aman, dan juga sedih. Pemberian label buruk dari orang lain terhadap diri kita mempengaruhi pola pikir kita terhadap diri kita sendiri, dan mempengaruhi sikap kita dalam mengambil keputusan dalam menjalani hidup.

Yang saya ingat, usaha memerangi suara-suara orang lain yang memberikan label buruk kepada saya di usia belasan. Semakin menggeliat setelah saya lulus sekolah dan mulai terjun di lingkungan kerja yang lebih luas saat usia belum genap 17 tahun. Saya bertemu dengan lebih banyak orang dari berbagai kalangan usia, strata, dan latar belakang yang berbeda-beda.

Hal itu yang mengawali semakin terbukanya pikiran, pandangan semakin luas, dan hati yang semakin sering mempertanyakan hal-hal dan memiliki keyakinan terhadap diri sendiri. Untuk sejenak, saya melakukan reka-ulang apa yang telah terjadi di masa lalu. Tentang saya yang tidak pernah mengikuti “tren” teman-teman saya di sekolah yang berhubungan dengan bullying.

Sejak duduk di sekolah dasar, tren panggilan nama orang tua sangat marak dilakukan teman-teman saya. Bagi anak generasi 90an saat itu, hal tersebut sangat lucu dan (mungkin) memuaskan. Merasa jadi yang berkuasa dengan berani menyebut nama orang tua temannya sebagai panggilan tanpa mendapatkan perlawanan. Mungkin. Saya belum pernah mendapat pengakuan jujur dari pelakunya.

Yang jelas bagi saya, itu tidak pernah berhasil membuat saya tertawa, juga adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan, selain itu juga saya sudah paham hal tersebut tidak menunjukkan kesopanan dan penghormatan. Anehnya, ketika saya tidak bereaksi atau merespon yang teman-teman saya lakukan, mereka tidak akan merasa hal tersebut seru untuk ditujukan kepada saya.

Label negatif yang pernah saya dapatkan, pernah juga mempengaruhi pandangan saya terhadap diri saya sendiri selama beberapa saat. Beberapa yang saya ingat adalah saya mendapat julukan “Putri Solo” yang identik dengan gerakan lemah gemulainya, artian yang dimaksudkan adalah orang yang lamban dalam mengerjakan sesuatu.

Saya juga dinilai lamban saat makan, yang sekarang saya pahami, bahwa tingkat lamban dalam mengunyah makanan seorang berusia 20 tahunan dengan anak berusia  5 tahun sangat tidak masuk akal untuk dibandingkan. Namun, label tersebut cukup lama menggelayuti diri saya, saya percaya penuh dengan label tersebut dan merasa tidak perlu berusaha untuk membuktikan sesuatu.

Ketika sudah mulai bekerja, saya merasakan pertumbuhan diri saya terpacu untuk berkembang pesat. Setiap satu demi satu apresiasi yang datang atas kinerja baik saya, membuat saya mulai mempertanyakan label-label negatif yang selama ini menggelayuti diri saya bertahun-tahun. Apa benar saya lamban? Apa benar saya ceroboh? Apa benar saya tidak mampu?

Bukan hanya label negatif yang membunuh karakter, namun saya juga mulai mempertanyakan nilai dasar dari label yang pernah saya dapatkan. Bagaimana orang bisa dikatakan cantik? Siapa yang menentukan ukuran tubuh ideal? Apa yang dapat menengahi antara pemikiran orang satu dengan lainnya?

Saya mulai menggali segala hal dalam diri saya yang masih terpendam selama ini dan menemukan banyak harta yang sangat lebih penting untuk diterima dan disyukuri. Betapa banyak hal yang belum pernah saya kenali dan saya sadari telah miliki dari sosok bernama Selina. Saya ingin semakin mengenal diri saya dan memancarkan apa yang selama ini ada di dalam.

Hingga saat ini, saya tidak pernah memiliki stereotype atas apapun yang ada diluar saya. Dan semakin teguh dengan apa yang sudah saya olah sendiri berdasarkan pemikiran, pengalaman, masukan maupun sanggahan yang telah saya proses sedemikian rupa. Saya terbuka dengan hal-hal diluaran, namun juga memiliki batas yang saya kendalikan untuk dalam diri saya.

Anda mungkin juga sudah mengalami hal yang saya ceritakan, mungkin juga belum, atau bahkan sengaja atau tidak sengaja menghindari untuk mengalami. Berkaitan dengan label diri, beberapa pertanyaan bisa Anda ajukan untuk diri sendiri, dengan tujuan menjadi yang lebih dulu mengenali diri Anda sebelum orang lain.

Apa benar Anda sesuai dengan label yang menancap pada pikiran Anda? Apa kekurangan dan kelebihan Anda menurut penilaian Anda sendiri? Apa hal yang mendasari Anda pantas mendapatkan label tersebut? Siapa  yang boleh maupun tidak boleh mempengaruhi atau memberi penilaian terhadap diri Anda? Apakah Anda bisa memiliki kendali penuh untuk menjadi sesuai seperti yang Anda pikirkan, dan bagaimana caranya?

 

Selina

Minggu, 03 Januari 2021

Memanjakan

 



Habis bahas tentang sikap manja, kali ini bahas yang memanjakan. Gue amatin, banyak banget orang yang belum dengan sadar memanjakan secara sehat. Ujung-ujungnya ngerasa kebebanan secara emosional dan nuntut dapetin hal yang sama.

Nggak beda jauh sama pelaku manja, yang memanjakan juga nggak punya batas diri yang jelas. Makanya seringkali yang begini ini cocok satu sama lain. Dasarnya adalah tentang boundaries. Batas diri yang jelas dari tiap individunya. Berani berkata tidak, pun menerima penolakan. Nggak melulu yang manja adalah cewek dan yang manjain adalah cowok.

Faktanya, banyak juga yang sebaliknya terjadi di sekitar kita. Dan memang nggak ada kotaknya tentang perilaku manusia, cowok maupun cewek sama-sama punya potensi berperilaku apapun, menurut gue ya, jadi sila anggap ini pendapat subjektif.

Balik ke – sebut aja pemanja deh. Istilah ngawur baru bikin spontan ini. Si pemanja ini dalam satu sisi ngerasa berperan sebagai pahlawan, penyelamat, pokoknya ngerasa jadi solusi dari permasalahan si manja. “Lu kalo ga ada gue nggak bisa deh”, “Lu nggak bisa nanggung masalah lu sendirian, biar gue aja yang nanggung”. Sebuah peran berasaskan tanggungjawab semu. Nggak gitu konsepnya.

Hubungan yang sehat adalah saling dukung dan nemenin disetiap saat, bukan yang saling lempar tanggungjawab atas masalah masing-masing. Misalnya lo punya masalah, lo pasti dihadapkan pada pilihan tentang jawaban dari masalah itu. Entah lo bisa dapetin solusi biar masalah selesai, atau lo siap nanggung resikonya karena nggak punya solusi yang bisa nyelesaiin.

Bukannya malah orang lain (bisa pasangan atau orang tua, dsb) yang ambil alih masalah lo, mulai dari mikirin alternatif jalan, ambil keputusan, sampe nanggung resiko. Sedangkan lo nya nggak mau tahu masalah itu. Apa iya bisa di bilang sehat hubungan yang kayak gitu?

Yakin orang lain selain diri lo itu nggak ngerasa kebebanan secara emosional, atau bakalan nuntut sesuatu dibelakang nanti? Ntar kalo si pemanja lagi ada masalah juga, yakin nggak ungkit-ungkit bantuannya biar lo ikut nanggung masalah si pemanja? Peran si manja dan si pemanja, si lemah dan si kuat, si korban dan si penyelamat ini nggak akan bisa seimbang, selalu timpang iya.

Kenapa bisa gitu? Padahal bisa aja kan sepakat saling gantian aja. Ya karena ukuran peran dari suatu masalah itu nggak bisa ditakar secara pasti. Nggak ada nilai pasti dari suatu tanggungjawab atas masalah orang lain yang kalian ambil alih. Bingung?

Misalnya gue mutusin buat nggak nerusin S1 karena saat itu lagi riweuh bikin laporan OJT buat kompre D1 gue ditambah persiapan pernikahan. Ini contoh nyata yang gue alamin. Saat itu gue move on nya lama banget dari masalah ini. Gue sadar tanpa ada paksaan mutusin ini, gue ngerasa saat itu keputusan yang gue ambil emang terbaik.

Di saat awal pernikahan yang mulai berasa lika-likunya, dalam hati selalu ada bisikan “gue udah mutusin nggak nerusin S1 padahal udah bayar uang masuk segala macem bahkan dapet seragam, demi fokus buat menikah sama lo”. Pas lagi kecewa, atau ada perselisihan yang wajar terjadi dalam rumah tangga, selalu keinget keputusan itu, ada rasa hampir aja nyesel disaat lagi emosional banget.

Padahal itu sama sekali bukan salah suami gue, dia nggak pernah nyuruh atau maksain apapun keputusan saat itu, dan gue sadari itu. Milih buat nunda S1 -- Ini masalah gue, sedangkan perselisihan rumah tangga – ini beda lagi, ini masalah kami berdua yang harus saling kompromi buat cari solusi yang terbaik buat bersama.

Intinya, suami gue nggak layak buat merasa kebebanan secara emosional karena S1 gue ketunda sampe saat ini. Ini masalah yang ada dalam kontrol gue sepenuhnya. Toh suami gue nggak pernah menghalangi keinginan nerusin S1 gue, sampe saat ini pun mendukung meski belum ada kesempatannya lagi, dan seiring berjalannya waktu saat ini gue udah legowo tentang masalah itu.

Akan jadi nggak sehat ketika gue nuntut suami bertanggungjawab untuk nurutin mau gue karena ‘pengorbanan’ yang udah gue lakuin buat menikah – sama dia. Mungkin aja gue bisa jadiin itu senjata buat kasih dia tekanan buat selalu membahagiakan, nggak ngecewain, nurutin semua mau gue karena ‘pengorbanan’ itu. Dan mungkin juga dia bakalan nerima tanggungjawab itu.

Tapi apa itu bisa dibilang seimbang? Apa suami gue nggak ngerasa tertekan dan timpang karena gue selalu ngungkit tentang pengorbanan yang gue lakuin disaat kita lagi ada perselisihan, bukannya saling kompromi. Gue bisa aja selalu jadi menang, tapi itu kemenangan kosong. Gue kayak lagi taruhan dan punya kartu bagus. Tapi perasaan menang itu sangat dangkal.

Lama-lama yang ada hubungan jadi terasa hampa karena nggak pernah ada perasaan yang mendalam atas sikap ‘saling’ yang sehat, sikap yang ‘take and give’. Karena yang ada hanya saling tuntut dan saling hitung peran sendiri. Batasan atas diri masing-masing nggak jelas. Apa ini bikin hubungan toksik? Silahkan dijawab sendiri. Bye.


Selina

 

 

Sabtu, 02 Januari 2021

Manja



Pas denger kata manja, apa yang terdefinisikan di kepala kalian? Gelendotan? Disuapin? Atau yang agak serius – menyerahkan urusan kita untuk dikerjakan orang lain. Apa kalian yakin bukan orang yang manja? Atau malah kalian nggak sadar kalau termasuk orang yang manja?

Manja, kalo mengutip kata Raditya Dika dari salah satu video Youtubenya yaitu memanipulasi emosi seseorang agar bertanggungjawab atas masalah kita. Klik. On point banget menurutku pribadi. Contohnya gimana tuh?

Misalnya pas adek lo ngerengek minta anterin ke warnet buat ngerjain tugas, padahal ada motor nganggur dan dia udah bisa naik motor – ini manja. Beda dengan, diluar ujan, terus lo khawatir adek lo bawa motor masih ga bener. Pas dia mau berangkat lu nawarin diri nganterin – ini bukan manja. Ini inisiatif dan kerelaan lo buat bantuin adek. Ga ada beban emosional pas ngelakuinnya.

Contoh lagi, misalnya lo pasangan menikah. Pas weekend suami lo pengen ketemu temen-temen lamanya, dia bilang mau nobar sama temen-temen cowok. Lo dalam hati pengen ngabisin waktu sama dia. Bukannya ungkapin dan obrolin biar bagi waktunya sama-sama enak, lu ngasih syarat boleh ikut atau suami lo ga boleh berangkat nobar – ini manja.

Kecuali suami lo emang suka ngajakin lo buat ikut kemana-mana karena mungkin aja temen-temennya juga ngajakin pasangannya, jadi suami lo nggak ada beban pas asik nonton bola atau kumpul sama temen-temennya dan nganggurin lo disana – ini bukan manja.

Satu contoh lagi biar manteb. Misalnya lo pengen beli smartphone baru, karena ga punya duit buat beli cash lo kredit deh. Terus sehari sebelum deadline bayar cicilan lo pengen beli tas yang seharga cicilan pertama smartpone tadi.

Lo milih nurutin beli tas yang lo pengen, terus bilang ke suami, “yang tolong bayarin cicilan hapeku ya besok. Soalnya budget nyicilnya aku beliin tas yang lagi diskon, kan belum tentu besok-besok ada lagi diskonnya”.

Padahal lo udah dikasih budget buat kebutuhan bulanan. Sehinga bikin suami lo jadi ngorbanin uang lebih, atau waktu buat overtime biar dapet lemburan, atau tabungan dia yang sebenernya juga lagi pengen beli sesuatu. Intinya suami lo jadi harus bertanggungjawab deh sama keputusan yang lo ambil sendiri.

Beda lagi kalo suami lo orang yang merdeka finansial tujuh turunan, meski lo suka ngasi serangan dadakan gitu bisa tanpa beban aja nge-iyain, bayarin, tanpa beban emosional sama sekali. Bisa mulai keliatan nggak definisi manja tadi?

Jadi, orang mandiri – tidak manja, bukan berarti orang yang semua-muanya dikerjain sendiri tanpa campur tangan bantuan orang lain. Tapi lebih seperti, orang yang bisa mengantisipasi dan bertanggunjawab untuk menyelesaikan ataupun menanggung resiko atas segala keputusan dan permasalaannya – terlepas ada orang yang berinisiatif menawarkan bantuan dengan suka rela.

Kuncinya di kata manipulasi tadi sih. Ada juga kasus hubungan toksik yang secara emosional melakukan manipulasi untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan dasar egonya. Belum tentu orang manja itu secara langsung menyampaikan sebuah ‘permintaan’ kepada korbannya. Cie korban.

Ada yang juga menggunakan teknik pasif-agresif biar korbannya tertekan dan mengabulkan keinginan terselubung yang disiratkan secara emosional.  Misalnya, lo lagi pergi ke salon disuatu mall sendirian pas suami lagi kerja. Terus dompet lo ketinggalan dan baru sadar pas baru nyampe salon. Lo telepon suami bilang dompet ketinggal dirumah padahal lo tau suami lagi kerja.

Bukannya sadar itu kesalahan lo sendiri dan peduli kalo suami lo harusnya profesional, terus balik pulang ambil dompet atau ke salon lain waktu aja, lo malah bilang “yaudah gapapa,  aku telepon ‘sebut nama mantan’ aja, kan dia kerja jadi kepala toko di supermarket sini”. Yang pastinya bikin suami lo dipertaruhin harga dirinya dan ngerasa nggak ada pilihan selain nurutin mau lo.

Silahkan tersinggung. Itu proses yang bagus sekali buat diri lo sadar. Gue bahas gini bukan karena gue ngerasa lebih mandiri dari siapa. Tapi karena dulu gue pernah juga kok ternyata nggak sadar diri kalo lagi annoying banget manjanya. Dan sekarang sudah berlalu. Gimana bisa berubah kalo nggak sadar dulu kan?

Jadi poinnya disini buat biar pada nanya aja sama dirinya sendiri, “gue annoying nggak sih?”, “Oh ternyata meski secara finansial gue mandiri, ternyata ada sikap-sikap manja yang toksik banget yah.” Dan seterusnya. Kalo ada yang ngerasa korban lo dengan senang hati aja ngadepin kemanjaan lo, ya syukur deh kalian cocok.

Ada dari kalian yang merasa jadi korban manja? Alias yang memanjakan orang? Ngerasa kebebanan secara emosional? Ini beda bahasan lagi, tapi relevan banget sama topik ini. Ternyata kalian – yang memanjakan, juga turut andil dalam kegiatan toksik ini. Lebih mengacu ke bahasan tentang batasan diri. Next semoga ketemu lagi. See ya!

 

Selina


Sabtu, 19 Desember 2020

Hak Istimewa

 


Ada yang merasa hidupnya mudah dan punya banyak hak istimewa atau privilege? Atau malah merasa menderita dan paling kurang? *angkat tangan*

Iya.. Saya. Aku. Gue. Abdi. Dalem. Me. Moi. Mich. ‘Ana. Мне. 나를. ฉัน.

Dah ah google translate sendiri sana.

Pernah banget merasa punya privilege atau hak istimewa yang kita sendiri nggak bisa memilih, pernah juga ngerasa kalah dengan privilege orang lain yang aku nggak miliki. Yeah, as you know betapa kecantikan saya menyaingi galgadot sampe bisa masuk bandara tanpa antri.

*becanda ding*

*belom pernah masuk bandara*

*paspor aja nggak punya*

*masuk bandara emangnya nggak harus antri ya emang?*

*tapi emang kata Zac aku paling cantik*

Ngelawak lagi gua tampol ya.

Kalau mau coba sebutin privilege yang aku sadari di hidupku, apa ya? Mmm.. let say lahir di Indonesia di saat perang dunia II usai, punya keluarga inti yang utuh dan sehat walafiat, punya anak yang terlahir sehat mental dan jasmaninya, punya imun tubuh yang cukup baik sehingga nggak pernah rawat inap di RS kecuali pas melahirkan, dan buanyak lagi pastinya.

Kalau pernah kalah atas privilege orang lain, contohnya ya bisa beli buku cetak pas sekolah karena orang tuanya mampu sedangkan aku harus fotokopi, punya motor pas masih sekolah sedangkan aku harus jalan kaki jauh demi nggak oper angkot, bangun lebih pagi karena harus ngetem dulu, dan nunggu reda pas hujan biar bisa pulang, buaanyak lagi kalau mau di kulik.

Jadi intinya, kita semua punya privilege,lho! Sekecil dan seremeh apapun bagi kita bisa jadi hal yang berharga dan nggak dimiliki orang lain. Jadi daripada fokus iri dan nyinyir dengan keistimewaan yang dimiliki orang dan nggak kita punya, mending kita hitung sendiri privilege kita dan merasa bertanggungjawab atas itu.

Misalnya kamu merasa cantik, ya alangkah baiknya kamu lebih berperan untuk membuat orang bisa merasa, membuat, dan menyadari bahwa dirinya cantik. Kamu mewarisi kekayaan tujuh turunan, ya buat hartamu bisa bermanfaat untuk banyak orang. Atau kamu terkenal, buat kepopuleranmu itu bisa membuat suara-suara orang yang punya nilai baik tapi tidak terdengar jadi tersebar luas.

Nggak perlu hal besar, mulai aja satu langkah kecil, mulai untuk kebaikan satu orang, yang terdekat, atau yang lewat didepan matamu, yang kamu nggak kenal bahkan. Membela temanmu yang korban bully di kelas mungkin, beliin sarapan buat polisi cepek yang rutin nyebrangin kamu, atau iseng aja doain ojek online yang habis anter orderanmu lewat chat biar selalu sehat dan lancar rejeki.

Yuk mulai satu hari ini.

 

Love,

 

Chely

 

Senin, 30 November 2020

Melihat Rumput Tetangga

 


Mau punya pasangan sabar, cantik, pinter, jago masak, sholehah, rajin beberes rumah, bisa nyari duit juga? Sebaliknya juga buat yang perempuan, pengen punya pasangan yang ganteng kayak oppa-oppa, sixpack, lemah lembut, sabar, pengertian, jago berantem, mau bantu kerjaan rumah, pinter jaga anak?

Woi! turun.. jangan ketinggian. Ntar jatuh, sakit.

Jodoh itu bagiku kayak kepingan puzzle yang pas di kita. Tau kan bentuk kepingan puzzle? Pecitat-pecitut sana sini, ketemu kepingan pecitat-pecitut lainnya, eh lha kok ya bisa jadi utuh ya? Bukan rahasia ilahi. Dari pengalamanku sendiri, ternyata bisa kita nalar pake otak kok.

Ndak kaget saya mah liat orang sabar jodohnya sama yang emosian. Yang teges sama yang letoy. Yang mandiri sama yang manja. Yang cakep sama yang ehem.. yang biasa-biasa kek kita-kita inilah.

Ya karena secara scientific kutub magnet itu saling tarik menarik kalo berlawanan. Wis dari sononya diciptakeun begindang. Positif sama negatif itu berlawanan, tapi ya nempel tuh. Coba kalo positif sama positif atau negatif sama negatif. Mau ditempelin juga akhirnya terpisah. *KUMENANGIS... membayangkan...*

Yak. Jadi sampe mana tadi?

Iya gitu.. boleh sih, manusiawi lah pengen yang terbaik buat jadi pendamping hidup. Tapi disini gue cuman ngingetin aja, jangan halu atuhlah.. realistis aja. Liat kenyataan yang terpampang nyata disekitar kita. Yang paling penting itu kita tahu siapa diri kita, apa tujuan kita, apa hak dan kewajiban kita, gimana cara penerapannya di kehidupan kita yang makhluk sosial ini. Dah. Simple. *ditabok netizen*

Saya nih misalnya.. (mohon izin ngebahas diri gue nih) Orang yang menjaga kestabilan. Ketemunya sama orang yang detik ini merah detik berikutnya kuning. Kontras bat woi.. pink dulu kek. Ya.. emang gitu kenyataannya. Kenapa bisa? Karena rumus tadi, yang positif negatif tadi itu loh. Dan karena manusia itu kompleks juga yah. Punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Unik.

Selain gue dan pasangan saling melengkapi di plus minus masing-masing, kondisi atau keadaan juga seringkali jadi penyeimbang. Misal ada masanya kita butuh keputusan spontan di saat genting, aku yang stabil ini kudu mikir sepanjang jalan kenangan, plan A plan B sampe plan Z, gimana biar ga gimana biar ga gimana biar ga gimana. Pasangan gue enak aja mutusin hal kaga pake mikir atau cuman mikirin sesuai kondisi detik ini.

Ndilalah, it works. Pernah ngalamin kayak gitu? Pasti pernah.. ta kasih contoh lainnya wis..

Aku lagi aja contohnya, aku ndak suka ngerasani (baca: membuat orang tidak suka saat merasa dibicarakan) soalnya wahaha.

Aku bukan orang yang gampang emosional, runut sama yang sebelumnya aku orangnya stabil ya. Mau marah juga mikir dulu sampe bener-bener ngerasa proporsional marahnya. Dapet pasangan yang sumbu pendek. Kalo dipikir secara eksplisit, harusnya kita emang nggak boleh emosional kan dalam hal apapun. Harusnya aku yang bener gitu lah in other words.

Tapi ternyata pasangan yang ngamukan itu juga bermanfaat lho, sometimes. Aku jadi kayak dapet pelindung dari orang-orang yang mau bersikap tidak baik terus inget bojoku ngamukan. Jadi lebih segan gitu, ya to? Kamu wedine karo bojoku tok kok emang..

Dulu wajar aku mesti ngerasa, "kok aku tok yang sabar, kok aku tok yang ngalah, kok selalu aku yang berperan mendinginkan suasana, blabla..", Sekarang udah lebih ngenal diri sendiri. Nerima diri sendiri, Jadi bisa lebih ngenalin orang lain juga. Nerima orang lain juga. Pasanganku dalam hal ini.

Jadi ya sudah sadar, ya emang kalo dibanding pasangan aku orangnya lebih sabar, jadi wajar kalo aku yang ngalah duluan, yang mendinginkan suasana pas lagi panas, yang berusaha (((MENJEMBRENG))) permasalahan karena aku yang lebih bisa jernih duluan pikirannya. 

Toh aku mau ngikutin marah-marah juga selalu jadinya nyesel di akhir. Nyesel kok marah-marahku nggak proporsional gitu. Masalahnya seupil marahnya segentong. Bayangin kan harusnya upilnya segentong dulu baru aku boleh marah segentong biar sesuai porsi. #jangandibayangin

Masalah itu pasti kecil kok kalo udah di kupas-kupasin. Makanya sebelum marah-marah, coba deh sama-sama diskusiin, mengupas masalah secara tajam, setajam...

*yok kita sebut bareng*

*buat yang ngerti-ngerti aja*

Jadi nggak ada tuh kata-kata menyakitkan yang seharusnya nggak perlu diucapin atau nggak nyambung sama permasalahan keluar sia-sia dari mulut. Dan terbukti memang, pasangan bisa lebih ngikutin akhirnya.

Tiap manusia yang waras punya hati nurani yang selalu jadi pengingat kok sebenernya, mana yang baik dan enggak. Cuman seringkali emosi itu bikin salah dan benar jadi keliatan kabur. Orang marah tu karena ngerasa "gue bener elu salah", atau "eh iya kok elu bener gue yang salah doh malu lah minta maap pokoknya elu aja minta maap".

Jadi antara belum paham masalah, emosi dan ego campur jadi trio kwek-kwek. Makanya kalo marah kebanyakan kan begitu yang keluar dari mulutnya, wekewekewekewek.

Terus apa lagi ya.. hehehe

Ya pada akhirnya perlu nerima kenyataan kalo Tuhan itu Maha Adil. Ada orang yang ketika ngeliat pasangan lain kok kayak,”jangan-jangan kita jodoh yang tertukar”, “harusnya dia yang bisa sesuai kebutuhanku”, “beruntungnya dia dapet pendamping kayak gitu”, karena ternyata ngerasa banyak kecocokan dengan yang bukan menjadi takdir kita.

Ya emang ada kok diluar sana yang sesuai dengan mau kita, yang mungkin juga sebenernya mau sama kita, kutub positif itu bisa kok ketemu kutub positif, kutub negatif juga bisa ketemu kutub negatif. Ketemu doang tapi, ndak jadi jodohnya. Auh..

Ya karena itu tadi, Gusti Maha Adil. Udah mutlak jadi sifat Allah. Bayangin nih.. orang ganteng ketemu orang cantik, sama-sama sabar, sama-sama pinter, sama-sama rajin, sama-sama berakhlak dan punya habit baik. Apa nggak jadi sasaran pembunuhan itu? Hehehe

Kalo ada pasangan-pasangan yang terlihat sempurna tanpa cela, itu ya karena mereka kerjasamanya baik dalam berkonspirasi dan kontrasepsi. *halah*

Kalo ada pasangan yang pernah bersama terus cerai dan tetap berhubungan baik, ya karena mereka masa kerjasamanya habis aja. Jadi kerja sendiri-sendiri dan bahagia masing-masing.

Kalo ada pasangan yang cekcok sampe kakek nenek kaga ada akurnya? Ya mereka lagi berpolitik aja dengan kesepakatan genjatan senjata. Belum dan tidak siap menghadapi risiko lain. Jadi milih risiko yang udah terlanjur aja dah.

Kalo ada pasangan yang pernah bersama terus cerai masih aja cekcok? Mungkin salah satu atau keduanya sakit mental menahun yang diturunkan dari pasangan kakek nenek kaga ada akurnya dan berpolitik dengan kesepakatan genjatan senjata tadi. Beb, sadari kamu sedang sakit. Karena lahir dari dan dibesarkan oleh orang tua yang nggak bahagia.

Yuk sembuh.

Lagi nggak bikin postingan bermanfaat nih. Cuman lagi jalan-jalan aja ini liatin rumput tetangga yang macem-macem. Sekian. Bubye.


Love,

 

Chely

Sabtu, 18 Juli 2020

APA YANG MEMBUATKU JATUH CINTA?





Ngomongin cinta yuk? Hahaha. Gegara ikutan give away buku di instagram nih mood cinta-cintaannya jadi mode ON. Jadi give away nya tuh disuruh jawab pertanyaan, apa sih yang bikin kamu bisa jatuh hati?
*auto kdrama backsound*


Aku nggak baca komentar lain sebelumnya, langsung ngetik aja jawabanku apa, nggak panjang-panjang amat, tapi cukup merangkum semuanya. Terus klik enter deh.



Habis itu baru aku baca-baca komentar lain, ternyata yang lain pada nyebutin kualitas-kualitas dalam diri seseorang yang bikin jatuh cinta. Terus aku langsung mikir, Tuhan.. mengapa aku berbeda? LOL. Sempet mikir ulang, apa jawabanku salah ya, pertanyaannya kan apa yang bikin aku jatuh cinta sama seseorang, ya kan aku tinggal menggali perasaan aja toh pengalamanku seperti apa.


Nggak salah kok ternyata ya.. tiap orang punya pandangan dan pengalaman berbeda dan emang aku jatuh cinta bukan hanya karena melihat sisi kualitas seseorang aja. Karena ya setiap orang pasti punya kan? Cuman aku ngejawabnya dengan perspektif berbeda aja. Mereka yang nyebutin kualitas-kualitas seseorang yang bikin jatuh cinta juga nggak salah, bener juga. Jadi sudahlah mari kita salaman meski nggak lagi lebaran.


Poinnya, bukan berarti orang yang pernah bikin aku bisa menjatuhkan hati nggak punya kualitas yang mampu menarik aku, karena pasti semua orang, like EVERYBODY, has their own qualities. Begitu juga sebaliknya.. Everybody has flaws too.


Karena kalo flash back dan menarik sejarah, aku tuh nggak berawal dari perasaan jatuh cinta sama Yoki. Love at first sight.. apa itu? dipepet 2 tahun dengan berkali-kali nembak baru aku nerima cintanya setelah aku mutusin buat “oke, let’s do this TOGETHER”. Malah dia yang love at first sight katanya liat aku dikantor pertama kalinya. (FYI, kita dulu temen sekantor jaman kerja di hotel).


Sebelum sama Yoki akutu disakiti sama mantanku, chely yang polos dan naif dalam bercinta dibikin gamau pacaran lagi. Kapok. Nggak perlu diceritain detailnya, klasik. Sempet stress dan gemukan karena larinya ke makan donat 2 biji tiap setelah makan nasi pas break kerja. Perutku doang sih jadi buncitan banget sm pipi membulat, badan tetep gini-gini aja hehe.


Sempet ada beberapa yang PDKT meski aku udah bilang nggak pengen pacaran dulu. Ya si Yoki inilah yang ngeyel banget dan selalu bilang, “kalo gamau pacaran ya ayok nikah!”. Dulu ngakak-ngakak aja digituin, usia kami kan selisih 11 tahun. Jadi dalam hati kayak, “nih om-om ngocol banget dah” LOL.


Tapi pepatah jawa tresno jalaran soko kulino itu bener juga. Dari yang ngga suka sampe nggak mau kalo diajak jalan berduaan, mesti ngajak temen lain, sampe akhirnya mau kasih kesempatan buka hati dan pelan-pelan aku ngeliat potensi dari dalam diri Yoki ini. Jadi secara perasaan sebenernya prosesnya kayak ta’aruf, tapi ya nggak bisa disebut gitu juga. Karena prosesnya kan diawali dengan aku mau coba mengenali dia lebih dalam. Nggak ada rasa suka ato cinta diawal. Dan aku orang yang commit sama keputusanku. Sekali aku mau jalan, aku serius.


Dari dulu nggak punya sosok tipe pria idaman yang spesifik. Ya ada naksir-naksiran tapi jarang yang beneran jadi malahan sama yang aku taksir duluan, kebanyakan ya prosesnya ditembak-jadian aja. Umumnya remaja, sampe yang aku ngerasa paling serius sama yang terakhir sebelum Yoki dan disakitin. Tapi ngeliat Yoki ini emang kayak nggak banget lah saat itu wkwk. Nggak pernah terpikir sama sekali pokoknya kita mau jadi lebih dari temen.


Kayak ada feeling, why me bruh?
Kenapa sih nih om-om bisa gigih mau seriusin gue anak yang saat itu masih bau kencur? Jadi kami kenal pas aku masih sweet seventeen, buka hati buat dia pas umur 19, lamaran umur 21, nikah umur 22, dan Zac lahir diumurku yang ke 23 tahun. Umur abang ya tinggal ditambah 11 tahun dari umurku aja.


Cinta itu bisa ditumbuhkan. Kayak bibit yang disiram setiap hari, dipupuk, dikasi desinfektan biar ga ada hama, harus dirawat sebaik mungkin. Makanya, kalo dipikir lagi, dari awal aku nggak ada proses jatuh hati sama Yoki, tapi sekarang udah tahun ke-5 pernikahan kami. Ya karena aku mau merawat cinta itu, Yoki juga. Jadi jatuh cinta buatku bukan hanya awalan untuk sebuah hubungan aja.


Setiap hari aku harus jatuh hati kepada orang yang sama, setiap hari aku harus menjaga gimana biar cinta ini tumbuh dengan baik, dan nggak setiap hari hubungan ini baik-baik aja. Karena itulah aku punya perspektif lain untuk menilai apa yang bikin aku jatuh hati. Bukan hanya mencintai kualitas dalam dirinya, tapi juga mencintai sisi gelap yang cuman bisa ditunjukin ke aku, dan sisi terbaik yang bisa dicapai karena ada aku disisinya.



Love,

Chely

Selasa, 14 Juli 2020

BERPIKIR KRITIS

"Don't listen to the person who has the answers; listen to the person who has the questions."

- Albert Einstein -


Quotes yang mengawali postingan ini bikin aku mikir bahwa berarti, bahkan aku harus selalu mempertanyakan jawaban yang aku punya ya.. Dan itu yang bikin aku nggak merasa selamanya menjadi yang paling benar. Nggak selamanya aku harus dengerin diriku sendiri bahwa hal yang aku pegang selalu relevan.


Dari dulu aku selalu mempertanyakan hal-hal, kenapa bisa terjadi seperti itu, apa sih yang ada dibalik maksud seseorang ini, gimana biar masalah ini bisa nemuin solusi yang aku pahami sampe clear di aku, terus aku bisa jelasin sehingga orang lain bisa ngerti dan akhirnya bisa sepakat, atau bisa terjadi adanya saling kompromi satu sama lain.


Tapi ada kalanya dulu hasil pemikiranku itu nggak aku luapkan dan tuangkan ke dalam praktiknya. Seringkali aku pendam sendiri aja, entah biar bisa berdamai dengan keadaan, entah biar nggak terjadi pertikaian dengan orang lain, entah karena aku ngerasa nggak pantes aja buat bersuara.


Setelah melewati proses yang cukup panjang, sekarang ini aku ngerasa lebih berani bersuara. Aku berani punya pemikiran sendiri dan menyampaikannya. Meski seringkali harus terjadi pergesekan dengan orang lain, dan itu emang resiko yang wajar, tapi sejauh ini aku bisa handle dengan baik. Aku punya gas dan rem untuk bisa mengontrol seberapa jauh aku mempertahankan pemikirianku, seberapa jauh aku menanggapi perbedaan pendapat dengan orang lain.


Inilah hal yang lebih sulit dari berpikir kritis itu sendiri, yaitu ketika kita menyampaikan pemikiran kita ke orang lain. Karena nggak bisa dipungkiri emang perdebatan bisa sangat emosional ketika udah saling terpancing. Dan aku menghindari perdebatan yang udah ke arah nggak sehat. Ketika ada salah satu yang terbawa emosi, entah aku atau lawan bicaraku, harus ada yang notice untuk berhenti dulu.


Tapi ketika aku udah ngerasa lawan debatku ini udah nggak bisa diajak debat sehat, udah keliatan klo diem cuman untuk menunggu gilirannya mendebat neither being active listening, ya aku milih cukup sampe disitu aja sih, iyain aja biar cepet. Akan percuma kalo dilanjutin pun nggak akan nemu solusi yang dicari sebagai tujuan awalnya. Malah akan berimbas ke hubungan yang memburuk.


Toh aku juga nggak akan mau dipaksa asal sepakat gitu aja, at least aku udah coba ngerti dimana batasku. Dan cara untuk bisa notice satu hal yang menjadi fokus adalah impact, apakah hal yang aku perjuangkan punya impact yang baik untukku dan orang lain. That’s it. Kalo nggak, ya udah nggak perlu diperjuangkan untuk orang lain. Keep aja buat diterapkan diri sendiri di konteks yang tepat.

Jadi, critical thinking menurutku kalo dibuat alurnya kira-kira seperti ini :
Asking -> Searching for information -> Thinking -> Result of thought -> Application -> Impact


Proses critical thinking ini menurutku penting banget buat setiap orang disegala kondisi. Karena dengan ini, kita bisa melihat suatu masalah dengan lebih luas. Dan harusnya kita akan lebih bisa menghargai perbedaan pandangan karena kita terbiasa merunut pemikiran kita sendiri, jadi kita juga ga kesulitan untuk mencoba merunut pikiran orang lain.


Sebuah isi dari buah pemikiran adalah konten, sedangkan kondisi dimana pemikiran itu diterapkan adalah konteks. Jadi paling penting untuk diperhatikan adalah konteksnya dulu, baru konten. Karena belum tentu konten yang baik bisa diterapkan dengan tepat di konteks tertentu. Untuk itu, konteks dan konten ini saling beriringan.


Contohnya : Ada pria merokok dilantai dua sebuah restoran, sedangkan aku membawa anak makan dilantai dua resto tersebut karena ingin suasana outdoor. Secara implisit seharusnya pria tersebut tidak merokok ketika ada anak disekitarnya. Tapi karena dilantai dua tersebut memang ditujukan untuk smoking area, akan menjadi tidak tepat kalo aku menegur pria tersebut.


Jika dirunut, makan di restoran adalah konten. Konteksnya adalah area outdoor dilantai 2 restoran yang merupakan smoking area. Pertanyaan yang timbul, kenapa sih pria tersebut merokok didekat anakku? Kalo aku menegur dia, pasti dia menjawab karena memang disitu adalah smoking area. Jadi, lebih tepat untuk membujuk anakku turun ke lantai 1 biar ga kena asap rokok.


Meskipun aku ngotot marah-marah karena pria itu merokok didekat anakku, akan semakin terlihat konyol dan berpikiran dangkal karena aku memaksakan pemikiranku yang tidak sesuai dengan konteks meskipun yang aku perjuangkan adalah hal yang benar (tidak merokok di dekat anak demi haknya bernapas dengan udara bersih). Itulah pentingnya berpikir kritis dalam segala hal, untuk lebih menganalisa berbagai sudut pandang.


Dengan begitu kita memposisikan kita dengan helicopter's point of view. Kita bisa merunut pikiran kita sendiri, bahkan juga bisa menerima pikiran orang lain yang berbeda dengan pandangan kita. Kita nggak bakal gampang goyah dan bisa menjelaskan karena kita tau apa alasan kita atas pikiran yang kita pegang kuat. Kita juga bisa lebih menghargai apa yang dipegang kuat oleh orang lain, karena pemikiran kita sangat dipengaruhi oleh apa yang telah terjadi dan dialami selama hidup.


Ini masalah banyak sekali orang, lho!
Sering banget denger cerita hubungan memburuk hanya karena beda pendapat. Dimulai dari salah satu dan akhirnya bisa sama-sama emosional dalam menyampaikan pendapatnya. Padahal kalo kita bisa ngobrol dengan waras dan sadar, menaruh emosi dan ego jauh-jauh, fokus sama solusi, pasti bakal ada titik temunya kok. Entah itu salah satu dari yang terbaik, atau mengambil kesimpulan dari kompromi pendapat-pendapat yang berbeda.


Kenapa sih aku nggak gampang menjudge orang, mendahulukan untuk positive thinking, dan selalu mencari tahu apa alasan dibalik pemikiran seseorang. Karena aku juga mengalami rasanya nggak didengar keinginannya, nggak dipahami maksud tujuannya, bahkan di judge karena hanya dinilai dari apa yang terlihat dari luar. Aku ngalamin semuanya dan tau gimana rasanya. Jadi aku nggak mau orang lain ngerasain rasa nggak enak itu dari sikapku.


Jadi aku belajar untuk selalu berpikir kritis dan lebih berani untuk bersuara juga. Karena percuma ketika kita punya data tapi nggak disampaikan dengan kata. Sesuatu nggak akan bisa berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya. Tapi penting juga untuk berbicara sesuai dengan data, nggak cuman sekedar kata-kata. Nanti jadinya hanya berdebat untuk menang atas pembenaran. Bukan berdiskusi untuk mengkompromikan data yang paling tepat dalam suatu kondisi.


Semakin aku belajar berpikir kritis, semakin aku nggak nggumunan, semakin aku bisa menghargai orang lain dengan berbagai macam perbedaan cara berpikir, karena setiap orang punya pengalaman hidup yang berbeda. Sama sekali nggak ada yang sama. Jadi wajar banget kalo kita berbeda pendapat.


Dan punya pemikiran berbeda itu nggak apa-apa toh. Selama pemikiran itu nggak ngawur, dan bisa dipertanggungjawabkan. Karena syariatnya kan setiap orang pasti punya tujuan baik, dan kebaikan itu mutlak, harus dijalankan dengan cara yang benar pula. Kalo nggak, ya nggak bakal bisa tercapai tujuan kebaikannya. Pasti ada yang dirugikan.


To sum up, kita biasa berpikir orang lain bisa saja salah. Think otherwise. orang lain bisa saja benar bukan? sama juga sebaliknya. Mungkin saja kita yang benar, mungkin saja kita yang salah. dengan mindset yang open-minded, kita bisa memulai berpikir kritis dengan menerima segala kemungkinan yang ada. Seperti quotes penutup ini.

"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them."

- Albert Einstein- 


Love,


Chely