Sabtu, 06 Oktober 2018

BERDAMAI DENGAN MASA LALU


Kalian setuju nggak kalo aku bilang semua orang pernah punya dendam? Mungkin dendam secara tidak langsung. Karena dendam ini secara nggak sadar kita lampiaskan bukan kepada orang yang melukai kita secara langsung.



Kita semua terlahir suci dan murni kan? Tanpa mengetahui apa yang salah dan benar. Dan kita tumbuh seiring berjalannya waktu sembari mempelajari itu. Dari orang tua, saudara, lingkungan sekitar, bahkan orang lain. Dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasain sendiri. Nggak ada kamus salah dan benar yang ditulis oleh seseorang dan diterbitkan untuk dikomersilkan. Yang ada kitab-kitab agama, norma kehidupan dan hati nurani, yang membimbing diri kita dalam berpikir dan berperilaku.

Apakah beberapa kejadian ini terdengar akrab dengan kalian? Memukul anak atau wanita karena saat kita kecil sering dipukul atau melihat ibu kita dipukul. Memaksakan kehendak karena saat kecil kita hidup penuh dengan doktrin dan nggak punya hak bertindak sesuai kemauan sendiri. Tidak bisa setia dengan satu orang karena riwayat orang tua yang sering berganti pasangan. Sering berkata kasar karena sering mendengar pertengkaran orang lain. Suka membully orang karena kita pernah dibully dan melakukannya karena daripada menjadi korban lebih baik menjadi pelaku. Dan sebagainya.

Apakah kalian menyadarinya? Apakah aku menyadarinya?

Ya. Masa kecil yang membentukku menjadi pribadi yang tertutup dan keras, hingga belasan tahun kemudian. Yang aku baru pahami setelah aku dewasa, bahwa ternyata aku seperti ini karena masa kecil dilingkungan keluargaku. Chely kecil adalah anak yang pendiam dalam artian nggak banyak bicara tapi cukup lincah dan riang. Aku suka bergerak daripada bicara, manjat-manjat dan lari-larian daripada main dakon atau masak-masakan. Main bekel lebih males lagi. Mending olahraga, naik sepeda atau skateboard meski siang bolong. Item, kucel, tomboy.


Sejak punya adik kayaknya aku ngerasa nggak betah dirumah. Penginnya main sama temen-temen dan menghindari disuruh ini itu maupun dimarahin sama ibuk yang jadi sering capek. Entah kenapa ingatan masa kecilku dengan orang tua sejak punya adik kebanyakan adalah kenangan buruk. Salah dikit dimarahinnya ampun deh, apa dikit kena hukuman fisik (dipukul, dicubit, obladi oblada), belum ditambah bapak yang mulai kerja bolak-balik dari luar kota. Resiko menjadi pelampiasan bertambah ketika kedua orang tua sama-sama capek.

Itulah isi kepalaku selama belasan tahun yang semakin hari semakin memburuk. Karena sering mendapat perlakuan keras, akupun menjadi anak yang keras.  Walapun tidak hatiku. Ciaelahaii.. Yang ada dipikiranku hanyalah, sekolah yes, main yes, ibadah yes, tidur yes. Ngobrol seperlunya dengan adik dan ortu. Curhat sepuasnya dengan sahabat-sahabatku. Tiap ada yang ngajak main yukcus, palagi ada yang bayarin.. (((setset whet whettt))).

Aku sangat tertutup dengan orang tua, karena mereka nggak membuatku nyaman untuk membuka diri tentang hal terdalam dihatiku. Yang mereka tau aku sekolah dengan baik, bergaul dengan baik, ibadah pun baik.

Orang tuaku menilai aku adalah anak yang pemalas, pelupa, lemot, dan pasif. Justifikasi seperti itu sering aku dengar sendiri keluar dari mulut mereka. Padahal sering apa yang aku lakuin didepan mereka hanya untuk menghindari kesalahan. aku nggak mau dan berani melakukan kesalahan didepan mereka, makanya aku jarang bicara maupun bertindak. Bahkan mereka jarang tau masalah yang menimpaku. Aku nggak pernah bohong dalam arti membuat cerita palsu untuk menutupi sesuatu, aku hanya nggak cerita sama sekali kalo emang aku nggak pengen ortu tau akan suatu hal, which is a white lies.


Contohnya saat aku pernah dibully secara nggak langsung dengan separuh penghuni kelasku lebih dari setahun. Karena aku emang sengaja nggak cerita, biasanya aku baru cerita ketika ditanya atau setelah masalahnya udah aku selesaiin sendiri. Atau saat aku backstreet pas punya pacar si A karena emang aku nggak serius, tapi aku jalaninnya juga mulus-mulus aja dalam arti aku nggak selingkuh or diselingkuhin dan akhirnya putus karena masalah receh.

Kurang lebih sampai aku menikah dan punya anak, rasa memaafkan masa lalu itu berangsur-angsur datang seperti air yang membasuh hatiku. Ketika  aku merasakan belajar menjadi orang tua, rasa maklum mulai menyembuhkan luka yang lama terpendam. Sejak aku dilarikan ke UGD pas pembukaan ke-2 sebelum lahiran hingga proses lahiran selesai, sampai rasa keibuanku yang mendadak timbul dengan sendirinya dan terus bertambah setiap hari. Aku merasa hubunganku semakin membaik pula dengan orang tua.

Sebenarnya mungkin aku orang yang juga cukup sabar dalam menyimpan lubang dihatiku sendiri. Aku nggak pernah melampiaskannya melalui perbuatan yang merugikan orang lain dengan tindakan maupun lisanku. Aku hanya menjadi orang yang sangat tertutup demi melindungi hatiku sendiri. Aku ngerasa haus akan perhatian orang yang lebih dewasa dariku. Aku selalu pengen ngerasain punya kakak. Dan itulah yang aku lakukan sepanjang memenuhi lubang hatiku, mencari teman dengan dalih memenuhi rasa pengen punya kakak cowok.

Aku juga nggak terlalu suka anak-anak. Bukan yang sampe nggak pengen punya anak. Tapi beneran dulunya aku orang yang nggak bisa luwes ngemong anak kecil. Karena ngemong adek pun jarang. Aku baru lumayan deket sama adek setelah dia bukan bayi dan balita lagi. Mungkin sekitar seusia SD dan bisa diajak seru-seruan main bareng. Sebelum itu aku ngerasa jadi kakak hanyalah status yang menjelaskan aku harus mengalah dalam segala hal. Ngalah tentang hal channel tv, ngalah aku yang harus belajar sendiri karena ortu ngajarin adek, ngalah tentang keinginanku yang nggak terpenuhi sedangkan adekku terpenuhi karena dia lebih vokal (nangisan), ngalah yang nganter dia kemana-mana (sampe sekarang dia segede gaban pun), harsh.

Dalam hatiku yang paling dalam tetaplah sebagai kakak yang sangat bertanggungjawab dan sayang sama adeknya. Aku nggak melampiaskan apapun ke adekku. Justru aku ngelindungin dia waktu kecil dan jadi kena pukul pas sapu ibu melayang, aku juga yang ngajak dia belajar perkalian didepan rumah karena dia dimarahin sampe nangis pas belajar sama bapak, aku yang tau seleranya dalam hal fashion maupun makanan, aku yang ngehibur dan ngajak hangout kalo dia lagi tengkurep dikamar.

Diawal punya baby Zac, drama-drama riweuhnya reminds me to my mom. Why did I scream out when he cried so loud constantly, why can’t I handle it patiently,  why did I wanna do violence to him, it’s so stressed me out. Kenapa aku begini? He is just an innocent baby. Dan disitulah aku sadar, I haven’t forgiven my childhood yet.

Dan aku belajar untuk menerima semua yang pernah terjadi, I tried to embrace that feelings, nobody is perfect, so are my parents. Menjadikannya sebuah pelajaran dan mengambil hikmah, bahwa aku bukanlah orang tuaku dan baby Zac bukanlah aku. Aku bertindak dengan tangan dan hatiku sendiri. I determine consciously, what I have to do and don’t. Aku harus lebih baik dan memberikan yang terbaik untuk Zac. Aku nggak boleh memaksa Zac hidup dan merasakan hal yang pernah aku rasain.

Tapi beberapa tahun belakangan aku juga bersyukur, karena dengan semua yang terjadi aku menjadi pribadi yang kuat, disiplin, mandiri, pun merasa dekat dengan Tuhan karena aku sering menumpahkan perasaanku lewat doa selain menulis diary. Dan emang Tuhan nggak pernah meninggalkanku selama ini.

Sebelumnya aku pernah bilang tentang memaafkan, bahwa memaafkan adalah cara untuk kita berdamai dengan diri sendiri sebelum dengan orang lain. Cara untuk melepaskan beban yang memberatkan kita untuk maju kedepan. Cara terbaik untuk membalaskan dendam bahkan bila tidak ada yang meminta maaf meskipun telah melakukan kesalahan kepada kita. Dengan memaafkan, kita melepaskan diri dari rasa sakit dimasa lalu sekaligus dari rasa trauma yang akan kita lampiaskan kepada orang lain dimasa kini dan masa depan.


Memaafkan membuatku menjadi ibu yang lebih baik untuk zac. Lebih bisa menyesuaikan diri hidup dengan suami yang punya kehidupan sebelumnya yang pastinya berbeda dari aku. Menjadi lebih dekat lagi secara hati ke hati dengan orang tuaku. Mengingat lagi lebih dalam, bahwa banyak sekali hal-hal indah yang juga terjadi dimasa lalu dalam hubungan keluargaku yang selama ini tertutupi oleh rasa sakit yang lama terpendam dalam diam. Membuat aku merasa menjadi orang yang baru dan jauh lebih baik kedepannya.

Aku juga berharap, semoga kalian semua juga bisa memaafkan masa lalu, dan tidak melampiaskan rasa sakit itu kepada orang lain.



Love,

Chely

Rabu, 26 September 2018

I AM A VICTIM OF SEXUAL HARASSMENT



Ada yang bilang kalo orang nggak suka nonton berita itu bakalan ketinggalan jaman lah, kurang wawasan lah, bla bla bla. Dan aku adalah orang yang nggak suka nonton berita kriminal. Karena bakalan berakhir dengan mood terjun payung, ngedown, pokoknya nggak enak ati bisa sampe seharian. Sekarang coba kalian baca kalimat  “pelaku memasukkan gagang pacul ke organ intim korban”, “seorang ayah menghamili anak kandungnya”, “ditemukan mayat janin didalam freezer”, “seorang guru pesantren mencabuli 15 muridnya”. WTF.

Aku sangat sangat sangat nggak sanggup nonton itu semua. Walaupun aku suka banget film thriller yang isinya orang-orang psycho. Mungkin karena aku tau itu Cuma film bukan real life.  Aku lebih suka ngikutin berita politik mesi kadang isinya orang-orang lucu in a bad way. Dan bukannya terus aku jadi ketinggalan soal berita kriminal tuh. Aku masih sering liat spoiler judul berita kriminal yang dibikin semenarik mungkin biar orang penasaran kalo lagi main medsos, dan jarang banget aku buka sih.

Yang paling sensitif buat aku tuh tentang kejahatan seksual. Bukan karena kejahatan yang lain itu lebih ringan atau apa, tapi karena aku adalah salah satu korban pelecehan seksual. Mungkin sedikit yang tau hal ini. Hanya orang-orang terdekatku. Masih ada rasa trauma sama peristiwa ini. Dan aku bakalan ceritain disini.

Sekitar 8 tahun yang lalu pas aku masih menjalani masa Prakerin (Praktek Kerja Industri) disalah satu perusahaan digital, aku masih kelas 2 SMK. Aku prakerin disana selama 1 tahun, mulai kelas 2 semester akhir sampai kelas 3 semester awal. Hari-hari aku naik angkot CKL, senin-jumat masuk jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore.

Dan suatu sore aku pulang dari prakerin seperti biasa, turun dari angkot didaerah Velodrome Sawojajar aku jalan menuju rumah kira-kira jaraknya 5 menit. Kompleks perumahan emang cenderung sepi ya apalagi jam-jam segitu. Aku jalan sendiri pake jeans dan kaos merah, sepatu sneakers, tas selempang (saking masih melekatnya ingatan itu) dan nggak ada feeling apa-apa. Tiba-tiba ada motor dari arah belakang melintas disebelah kananku dan tangannya menyentuh bagian (yang nggak pantas disentuh) sambil mengendarai motor yang terus melaju. Aku SHOCK!!! Sepersekian detik aku nggak tau apa yang aku rasain. Kejadiannya cepet banget. Setelah aku sadar aku Cuma bisa teriak MISUH-MISUH sambil cari batu buat lempar tapi orang itu udah jauh kira-kira 15 meter didepan dan aku udah ngedown duluan nggak jadi lempar batu karena dia ngebut banget nggak mungkin terkejar.

Sambil mata berkaca-kaca dan perasaaan marah luar biasa aku liat sekelililng nggak ada orang sama sekali. Hanya ada 1 orang yang bengong didalem pager rumahnya nggak ngerespon apa-apa. Aku malu dan pikiran nggak jernih melangkah pulang dengan nangis. Nggak nyangka sama sekali aku dapet pengalaman buruk kayak gitu dijarak kira-kira tinggal 50 langkah dari rumah. Sampe dari rumah aku Cuma bisa ceritain ke ibuku sambil netesin air mata. Nggak yang sesenggukan karena emang aku nggak terbiasa nangis didepan orang tua. Dan nggak ada pikiran sama sekali harus ambil langkah apa lagi karena mau lapor polisi pun aku nggak inget plat nomer motornya

 Yang aku inget dia pake motor matic, celana kain hitam dan jaket kulit hitam, helm hitam tertutup, dan setauku selama bertahun-tahun disitu nggak pernah ada cctv dan 8 tahun lalu itu belum populer modus pelecehan seksual kayak sekarang ini. Cctv udah dimana-mana, berita juga banyak karena mungkin banyak yang lapor dan punya bukti. So sadly, aku punya trauma itu sampe sekarang. Ada desir didada dan perutku kalo aku lagi jalan dan ada suara motor yang lewat dari belakang.

Makanya sejak itu aku jarang banget jalan sendirian kemana-mana. Kalopun lagi jalan sendiri selalu sering nengok kebelakang tiap denger ada suara motor mendekat gegara ada rasa insecure gitu. Dan kalo lagi ada temen jalan aku selalu milih disisi yang nggak bersebelahan dengan jalan sih. Alhamdulillah sekarang udah berkurang sih rasa insecure itu sejak berhijab.

Mungkin emang nggak menjamin ya yang berhijab dijamin aman dari hal seperti itu, karena kejahatan itu nggak pandang bulu, namanya orang jahat nggak bakalan mikirin korbannya berhijab atau nggak, perawan atau janda, anak-anak atau ibu-ibu. Aku pernah liat diberita ada pelecehan seksual yang terekam cctv seorang wanita berhijab yang lagi duduk diatas motor sendirian nungguin temennya di gang sempit dan sepi. So kalo masih ada yang bilang pelecehan seksual itu salah si ceweknya mengumbar aurat lah, nggak berhijab lah, hijabnya nggak syar’i lah, mungkin karena dia, keluarga dan orang-orang terkasihnya nggak pernah ngalamin itu. Dan dia nggak punya empati sama orang lain. Kejahatan terjadi karena ada niat jahat dan kesempatan. Waspadalah-waspadalah!

Karena udah pernah ngalamin yang kayak gitu rasanya aku perlu kasih tips ya buat para wanita yang sering kemana-mana sendiri kayak aku.
  • 1.       USAHAIN NGGAK JALAN SENDIRIAN DITEMPAT SEPI / LEWAT JALAN YANG LEBIH RAMAI. Kalo kayak aku yang dulunya jaman sebelum nikah sering banget kemana-mana sendiri, harus lebih waspada kalo lagi ditempat sepi. Kalo perlu mending ambil jalan raya yang sedikit muter nggak apa-apa yang penting sekiranya nggak ada kesempatan buat orang niat jahat. Jangan lupa waspada sama tas, dompet, hp jangan sembarangan bawanya. Nggak kena pelecehan seksual tapi ntar jangan sampe kena jambret juga dong.
  • 2.       BELAJAR BELA DIRI / MEMBAWA ALAT UNTUK MEMBELA DIRI. Ini sih yang aku nyesel banget. Padahal aku suka banget olahraga. Tapi dasarnya aku anak nelongsoan, dulunya pas SD nggak jadi ikut karate karena nggak dibeliin seragam karate. Kalo harus bawa alat pun aku orang yang malas banget (gimanasik ngasi saran kok gak kasih teladan =_=V) heheu. Aku lebih milih bela diri dengan cara apapun sih kalo sampe amit-amit kejadian lagi. Janji sama diri sendiri udah nggak pake shock lagi langsung aja GUA TENDANG LU!
  • 3.       HAFALIN CIRI DAN IDENTITAS YANG BISA DILACAK. Kalo udah terlanjur kejadian dan penjahatnya berhasil lari sebisa mungkin hafalin muka, baju, celana, tato, tompel, semua ciri-ciri dan yang menempel dibadan dia. Dan yang paling penting kalo dia bawa motor HAFALIN PLAT NOMERNYA, SIS! Gue ngerasa dodol banget karena nggak kepikiran ini dulu. Maklumlah namanya juga nggak siap-siap.. 
  • 4.       TERIAK SEKENCENG-KENCENGNYA. Kalo ngerasa nggak bisa ngelawan teriak sekencang-kencangnya. Karena ada orang yang saking takutnya dan shock nggak bisa mikir jernih biasanya nggak tau harus apa dan malah diem aja gemeteran. Itu bisa bikin pelaku semakin diatas angin dan memperparah perlakuan jahatnya.
  • 5.       BERBOHONG DEMI KEBAIKAN. Ini cara paling absurd mungkin. Tapi nggak tau kenapa aku kepikiran cara ini. Kalo ada orang berniat melakukan pelecehan seksual sedangkan aku lagi di tempat dan keadaan yang berbahaya untuk ngelawan, misal dia bawa senjata tajam dan ngancem aku nggak boleh teriak. Tau nggak aku bakal ngapain? Jangan ketawa ya.. aku bakalan menggoda pelaku. Yup. Aku bakal bilang, “kamu mau apa tinggal minta aja pasti aku kasih kok, nggak usah ngancem-ngancem segala.” Gila gue geli banget bayanginnya geengss.. tapi kita harus bisa meyakinkan pelaku bahwa kita juga mau melakukannya. Goda dia, alihkan pikiran jernihnya sampai dia taruh senjatanya, kalo perlu sentuh dia di bagian sensitifnya. Karena orang kalo udah mikir ngeres otaknya pindah kesitu. Kalo udah tepat waktunya, TENDANG TUH OTAK NAFSUNYA! SEKENCENG-KENCENGNYA sampe dia posisi jatuh. Terus ambil langkah seribu. Lari dengan konsentrasi tinggi. Jangan sampe jatuh pas lari apalagi sampe dia bisa nyusul. Nggak usah noleh ke belakang sampe kalian yakin dia nggak ngejar dan udah ngambil jarak jauh sama pelaku. Begitu merasa udah aman langsung cari pertolongan dan laporin ke pihak berwajib.


Sorry ya kalo solusi terakhirnya susah dipahami oleh pikiran kalian. Kayaknya chely kebanyakan nonton film thriller guys. Dan emang aku kalo nonton film thriller selalu ikut ngomelin pemainnya kalo sampe ada kecerobohan pas dia usaha kabur dari penjahatnya. Padahal mah emang sama sutradaranya disuruh akting begono yak..

Untuk para korban yang pernah ngalamin kayak aku. Mungkin banyak sekali yang mengalami lebih lebih lebih buruk dari yang aku alami. Banyak sekali orang yang menjadi sangat menutup diri, merasa malu untuk keluar rumah, merasa takut ketemu orang, bahkan menyakiti diri sendiri sampai bunuh diri karena merasa dirinya nggak berharga lagi. It’s a big NO. Keep strong geengs!

Aku tau itu nggak mudah. Dan Itu memang hal buruk yang pernah terjadi dihidup kita, bahkan mungkin membentuk dan berpengaruh dengan kepribadian kita, membuat kita mempunyai trauma, tapi maafkanlah dia. Aku nggak tau apa istilah yang pantas untuk semacam memaafkan orang seperti itu. Tapi percayalah, memaafkan itu bukan tindakan yang kita lakukan untuk orang lain. Tapi memaafkan adalah untuk kebaikan kita sendiri, supaya kita move on dari peristiwa buruk di masa lalu itu dan melangkah menuju masa depan.

Terakhir, Mereka mungkin melakukan hal buruk pada kita dimasa lalu, tapi mereka nggak pantas merusak masa depan kita juga. Kita sendiri lah yang menentukan bagaimana masa depan kita nanti. Jangan ragu kalau misalnya kalian butuh bantuan profesional seperti psikolog/psikiater. Sampaikan pada keluarga yang bisa membantu agar kalian mendapat bantuan dari ahlinya. Peluk erat dari aku...




Love


Chely

Selasa, 25 September 2018

I AM PERFECTLY IMPERFECT




Kalian percaya zodiak nggak sih? Setelah beberapa lama aku baru buka ramalan zodiak di internet kemarin. Gegara aku yang introvert ini sedang butuh kata-kata bijak dari seseorang tapi aku nggak tau mau curcol ke siapa. Kasian kan aku? Pengin transfer sesuatu ke rekeningku nggak? Heheuuu :”))))))

Sebelumnya aku kasih tau dulu ya kalo ini bakalan curcol dan mungkin unfaedah banget. Karena emang aku bikin blog ini nggak yang komitmen mau jadi blogger sejati yang sharing suatu maha karya yang menginspirasi para pembacanya sih. Tapi buat aktualisasi diri aja, menyalurkan hobi menulis dan pikiran-pikiran yang sering bikin otak berasa full. Karena aku termasuk orang introvert yang nggak bisa gampang curhat ke orang. Dan buku diary pun teronggok dipojokan lemari soalnya capek banget nulis pake tangan tuh. Dan udah nggak jaman juga keles..

Jadi aku ada satu dua masalah yang diatas normal sehari-hari. Dan aku mikirin banget. Sampe akhirnya aku cerita sama Abang karena berasa otakku belum juga jernih beberapa hari ini. Walau aku udah tau respon dan jawaban Abang dari sebelum aku cerita pun, ternyata emang mengeluarkan uneg-uneg itu sangat membantu. Kadang aku emang orangnya suka sok tau. Dan bener aja respon Abang sesuai banget sama perkiraanku sebelumnya. Sok tau ku pake dasar kok guys. Hehehe.

Setelah cerita masalah pertama, respon abang yang puk-puk me so well gitu. Ikut nggak nyangka dan lega sih ngeliat aku yang sebenernya udah punya solusi tersendiri. Padahal mungkin lumayan berat karena nyangkut soal garis besar kehidupanku. Tapi pas udah denger masalah kedua yang sebenernya nggak ngaruh apa-apa sama kehidupanku, piuhh.. muka premannya keluar. Dia ikutan sebel bahkan mungkin lebih sebel dari aku sendiri. Karena ya dia emang tipe-tipe kompor mleduk. Marah banget dia tau istrinya merasa terdzolimi. Sambil nyalahin aku terus sih, ‘makanya kan udah aku bilang..’ ‘kalo nggak karena kamu, aku itu udah ngerasa dari dulu..’ ‘nggak usah diurusin. Nggak ngaruh..’ bla bla bla.

Alhamdulillah tapi Abang tuh udah berubah banget kok dari masa kelamnya dulu yang superduper nekat dan berandalan. Salah ngomong dikit bisa berubah muka orang tanpa oplas besoknya. Sejak ketemu istri nan sholeha dan pereda panas dalam sekarang dia mah nggak yang diem-diem menghanyutkan lagi. Paling Cuma diem-diem bau aja. WAKAKAKAK.

Dan solusi masalah kedua dari abang adalah.. nggak ada. Hahaha.. sebenernya solusi dari dia adalah yang pait ya lepeh aja. Sama sekali bukan orang yang bisa mikir panjang dan jauh kedepan dalam keadaan emosi. Sedangkan aku adalah tipe yang kalo pait ya diliat dulu itu obat kah, jamu kah, racun kah.. kenapa harus minum itu.. apa manfaat/kerugiannya.. bla bla bla. Jadi aku Cuma sedikit lebih lega karena membagi duka tapi juga yang masih ganjel banget. Sampe akhirnya tiba.. ku googling key word ZODIAK.

Umum
Utarakan maksud hati agar tak ada yang sakit hati. Meski sebenarnya kamu berniat baik namun tak semua orang bisa berpikiran sama denganmu. Jadi jika ingin membantu, seperlunya saja. Jangan sampai orang justru menilai sikap baikmu karena ada maunya. 
Love
Single: Mati satu tumbuh seribu. Mungkin pribahasa itu yang bisa menggambarkan situasimu saat ini. Jika kamu berani melepaskan badai rasa sakit di masa lalu, maka akan ada pelangi yang datang suatu hari.
Couple: Menjalin hubungan memang dibutuhkan kesabaran, karena ini adalah perjalanan panjang. Jangan mudah membandingkan atau menyalahkan, lihat dari sisi positif dan tekankan bahwa cinta memang tak harus selalu memberi rasa manis setiap waktu.
Keuangan
Penting sekali menyisihkan sebagian uang jika sempat, karena belum tentu kamu bisa menyisihkan ketika sedang banyak kebutuhan. Nikmati setiap hal yang kamu miliki saat ini dan kurangi kebiasaan bermewah-mewah. Pastikan tidak besar pasak daripada tiang.

Itu hasil ramalan zodiakku. Dibilang bener juga nggak bener-bener amat, dibilang salah tapi ada benernya. Dan aku emang nggak yang pemuja ramalan apapun bentuknya sih. Aku anggep aja kayak undian gitu. Toh itu emang ada ilmunya kan entah gimana ku juga nggak pernah belajar dan cari tau. Yang pasti sih itu bukan ilmu pasti kayak matematika. Kalo dapet hadiah ya aku terima kalo nggak ya udah sih. Dan yang aku dapet dari hasil ramalan itu ya kalimat-kalimat bijak yang kurleb lumayan puk-pukin di keadaanku saat ini.

Untuk situasi LOVE dan KEUANGAN aku rasa kurang pas karena emang lagi baik-baik semua dan under control. Tapi kalo situasi yang UMUM itu emang dari dulu masalahku ya itu-itu aja. Ada aja orang yang nilai kebaikanku itu karena ada maunya. Mungkin saking aku totalnya kalo mau bantu orang, dan lebih berani mengutarakan sesuatu yang pahit demi kebaikan daripada bermanis-manis tapi malah menjerumuskan atau ngomongin dibelakang. Dan mereka nggak melek bahwa justru orang yang mereka junjung tinggi itu pernah atau akan menusuk suatu saat nanti.

Sampe kadang aku ngerasa terlahir menjadi orang yang mengerti dan peduli tapi nggak pernah dimengerti. Kayak tokoh di film-film yang berperan sebagai orang yang mau menyelamatkan hidup seseorang dan berkata jujur meski pahit buat keadaan, tapi malah dibantah habis-habisan karena orang itu lebih percaya dengan orang yang bisa mengambil hatinya meskipun dia penuh bumbu dusta dan bertopeng. Dan pada akhirnya orang yang dipercaya menusuk dari belakang dan gue yang ngorbanin diri buat ngelindungin dan terus gue nya mati. Baru tuh orang nyadar deh. Pernah nggak sih liat film yang begitu? Kadang gemes banget trus ngomel “yowislah biarin aja biar rasain”, kenyataannya nggak segampang itu jadi gue. SEBEL banget gue.

Dan emang itu  ada didunia nyata. Ada orang yang liat dari sisi yang negatif mulu. ‘kok dia mau segitunya sih? Jangan-jangan..’ ‘ih sok baik banget jadi orang. Biasa aja kali. Dasar fake.’ ‘jadi orang tuh jangan pencitraan. apa adanya aja..’ bla bla bla.

Nggak banyak juga sih sebenernya yang begitu. Lebih banyak orang yang ngerti dan bijak dalam menilai mana yang emang berniat baik dan mana yang pencitraan. Tapi meskipun sedikit kan yang kayak gitu menonjol banget ya. Auranya buruk aja deh bawaannya. Kayak biasanya ada suatu hal baik yang viral disosmed, komen baiknya 7000 misalnya, komen pedesnya palingan 400 doang tapi selalu nonjol banget kan kalo dibaca. Dan bisa menghapus efek komen baik yang 6600 lainnya.

Aku nggak apa-apa sih dinilai buruk juga, karena aku pun apasih, I am PERFECTLY IMPERFECT. Dan aku yakin semua orang pun sama. Nggak ada yang sempurna. Cuman YA MAAP ya kalo aku dibilang fake karena kebetulan aku melakukan hal yang baik didepan mereka mungkin karena ada yang salah sama hatinya. YA MAAP kalo aku terlihat baik di dunia maya karena aku emang nggak suka mengumbar masalah atau hal negatif karena sosmed itu emang buat aku bukan sebuah buku diari yang bersifat pribadi dan bisa terbuka apa adanya. Buatku sosmed itu nggak bersifat private dan orang lain boleh liat dan komentar. Ya emang aku ngerasa harus jaga personal branding bahkan didunia nyata sekalipun kok. YA MAAP kalo emang ada hal yang lebih di aku dan mereka nggak punya karena aku yakin ada hal yang nggak aku punya dan sebaliknya  mereka punya.

Dan ini maafku yang paling dalam dan tulus. Maaf kalo aku orang yang akan selalu mengingat kebaikan setiap orang yang pernah hadir dihidupku. Maaf kalo aku ngeyel untuk tetap menjaga silaturahmi meski kalian berbalik arah membenciku. Maaf aku nggak bisa mengumbar aibku karena akupun nggak bisa dan mau mengumbar aib orang lain. Maaf kalo aku sok mengerti keadaan dan sudut pandang kalian terhadapku dan memaklumi semua yang kalian lakukan. Maaf kalo kalian hanya bisa melihat dan mengingatku dalam keburukanku. Maaf kalo aku nggak bisa melakukan hal sesuai dengan sisi yang selalu kalian harapkan.

Dan terakhir, terima kasih atas semua kebaikan-kebaikan yang pernah kalian berikan ke aku. Semuanya nggak akan pernah terhapus kok dengan beberapa hal yang nggak aku harapkan terjadi. Makasih juga dengan sedikit rasa pedih yang bikin aku nggak lupa untuk introspeksi dan semakin memperbaiki diri. Makasih atas semua kenangan yang nggak ingin aku hapus, senang maupun sedih. Makasih kalo kalian masih mau berbesar hati nerima kekuranganku yang mungkin manusia paling sok ini.



Love,


Chely

JUJUR DENGAN ANAK




Gara-gara semalem sempet ngobrol yang quality topic sama Abang, aku jadi bahas tentang jujur dengan anak. Jujur  tentang kalo orang tuanya ini nggak sempurna. Sebagai pelajaran hidup yang nyata untuk dia. Bahwa orang tuanya ini ingin Zac nggak begini karena dulu mama begini, Zac jangan melakukan itu karena dulu ayah pernah begitu. Mama dan ayah bisa seperti ini bukan karena kami sempurna dan tau segalanya, tapi karena kami pun juga pernah bersalah, belajar, berproses dan berusaha jadi lebih baik.

Aku lebih dominan dalam memikirkan sesuatu yang terarah untuk anak. Mungkin karena aku sekarang seorang Full mom yang bisa fokus dengan keluarga khususnya anak. Dan aku selalu brandstorming sama abang sih gimana-gimananya biar bisa kompromi. Trus kemarin aku bilang kalo aku mau jadi orang tua yang anak bisa nyaman cerita apa aja, terbuka sama aku tentang semuanya. So, aku pengin kita sebagai orang tua juga harus terbuka sama anak.

Contohnya aku nggak mau kalo misal Zac gede nanti dia diem-diem ngerokok dan aku nggak tau. Aku orang yang anti banget sama rokok padahal dari kecil Bapak ku bekerja di perusahaan rokok. Bahkan abang nggak pernah merokok didepanku sejak menikah walaupun belum berhenti juga sih. Tapi aku pengen banget kalo Zac nanti memutuskan merokok, aku jadi orang pertama yang tau itu. Dan itu berlaku dalam segala hal.

Aku tau nantinya aku nggak berhak mengatur hidup Zac. Aku nggak bakal bisa ngelarang ini itu kalo Zac udah besar. Tapi setidaknya aku akan maksimal dalam membimbing dan mengarahkan Zac bahwa merokok itu hal yang nggak bermanfaat sama sekali, malah merugikan kesehatan dia, uangnya pun bisa dipake yang lain, dan waktu luangnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat daripada merokok, pokoknya aku berusaha membuat dia bener-bener sadar akan pilihannya sebelum dia hanya bisa menyesali dan menyalahkan ketergantungan zat adiktif dalam rokok.

Abang dulu pernah salah pergaulan. Bisa dibilang hampir semua kenakalan remaja pernah dilakuin, hhhh.. bukan tipeku banget pokoknya. HAHAHA. Tapi abang ngelakuinnya bukan karena kurang perhatian. Mungkin lebih ke dia itu dulunya mudah sekali terpengaruh ditambah terjebak dipergaulan yang salah. Karena menurut cerita abang dia ngelakuinnya dengan sepengetahuan Ibunya. Dan pas aku nanya apa yang dilakuin ibunya, beliau Cuma bisa nangis. Mungkin karena abang sudah diusia anak yang sudah nggak bisa dipaksa nurut maupun dikerasin. Dan emang dia bener-bener lepas dari pergaulan buruknya karena pilihannya sendiri. Karena dia keinget ibunya nangis terus. God.. I can’t imagine if it happens to me..

Abang pun sepakat kalo dia pun mau jujur sama Zac tentang masalalunya. Dia nggak ingin meminta Zac harus begini begitu tapi suatu hari nanti entah gimana caranya Zac tau masalalu ayahnya dari orang lain atau dengan caranya sendiri dan membuatnya berpikir ‘ternyata Ayah yang selama ini menuntutku ini itu nggak lebih baik dari aku’ . Dan aku nggak bisa menjamin apakah Zac bakalan bisa nerima kalo dia tau belakangan. Apakah Zac nantinya akan bisa punya karakter yang cenderung stabil atau labil.

Aku berharap banget Zac nantinya tumbuh menjadi anak yang punya karakter. Dan untuk bisa mewujudkan itu aku sangat mengerti bahwa nggak semudah menjentikkan jari. Butuh melewati proses panjang dan terjal. Zac harus bisa melewati rintangan kehidupannya. Dan aku ingin dia selalu menyelesaikan masalahnya sendiri dalam hal menimbang mana yang terbaik dan apa hal terburuk yang akan terjadi ketika memutuskan suatu pilihan. Dia juga harus menyadari dan siap menanggung resikonya. Aku dan abang berperan sebagai pembimbing yang memberikan arahan berdasarkan pengalaman hidup yang sudah kami lalui.

Ada pepatah ‘Buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Itu 99% bener sih menurutku. Karena lingkungan keluarga yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter seorang anak. Yang aku tekankan disini bahwa aku ingin Zac nanti menyadari bahwa dia bisa belajar dari pengalaman orang tuanya. Mengambil pelajaran positif dan membuang jauh-jauh hal yang negatif. Aku berharap Zac bisa memaafkan kesalahan orang tuanya, dan menyadari bahwa kami nggak sempurna, supaya dia nggak perlu mengulangi hal yang sama.

Jujur disini nggak melulu soal masa lalu dijaman Zac belum lahir sih. Tapi juga jujur pada masa sekarang. Misalnya Zac pernah di umur sekitar setahun keatas, disaat dia sudah bisa ngomong, pernah ngeliat aku dan abang bertengkar yang lumayan parah sih. Jangan ditiru ya gengs. Hiks. Sehabis itu dia ngomong ke aku kayak cerita gitu, “tadi ayah lempar-lempar HP. Nakal. Nggak boleh..” dengan logat pelatnya. Disitu aku cukup kaget sih. Ternyata selama ini nasehatku masuk ke Zac walaupun kadang dia keliatan antara nangkep omonganku apa nggak kalo dia lagi lemparin mainannya. Sekaligus merasa sangat bersalah dan malu banget, masa selama ini ngomelin dia ini itu tapi orang tuanya sendiri malah kasih contoh. Langsung deh aku minta maaf sama Zac. “maafin Ayah sama Mama ya Zac.. tadi Ayah marah terus Mama sedih, jadi mama nangis. Sekarang udah nggak sedih lagi kok. Maaf ya..”

Sejak itu sih aku langsung inisiatif minta maaf kalo aku bersalah sama Zac. Karena dia udah ngerti nasehat yang sehari-hari aku sampein ke dia. Dan dia mencerna melalui teladan orang tuanya. kalo aku dan abang sebagai orang tua melanggar sendiri, maka kita wajib dong minta maaf ke Zac. Supaya dia paham kalo emang hal itu salah makanya orang tuanya minta maaf sama dia. Dan alhamdulillah juga Zac selalu jawab IYA dengan nada riang kalo aku minta maaf. Bersyukur banget bisa punya Zac yang seperti ini. Jadi makin semangat terus belajar jadi teladan yang baik buat dia.

Kadang sebelum dia tidur kan aku selalu bacain buku cerita atau nyanyiin dia, kadang aku juga ngobrol sepanjang hari itu ngapain aja. Dan kalo hari itu aku marah-marah sama Zac aku bilang minta maaf udah marah-marah sama Zac tadi, soalnya Zac nakal nggak dengerin mama terus malah ngomel balik nggak berenti-berenti, trus akhirnya dia sendiri yang bikin moodnya rusak dan nangis. Dia sekarang kan lagi fase ngomel balik kalo dikasihtau yang bener. Calon kekeuh banget anaknya. Dan dia kayaknya ngerti sebenernya kalo dia salah. Cuman dia belum tau kekeuh yang bener tuh begimana jadi semua aja di eyelin.  Beuhh. Namanya juga anak-anak.

Jadi orang tua itu emang nggak ada kata buat berhenti belajar, dan luas banget kalo dibahas nggak akan tuntas. Yang menjawab adalah gimana jadinya anak kita nanti di masa depannya. Karena anak adalah titipan Tuhan yang menjadi tanggungjawab kita. Yang terpenting adalah kita nggak lengah sama tanggungjawab itu. Karena tanggungjawab itu nggak sampai separuh hidupnya kok. Paling setelah 20 tahun seorang anak udah penginnya lepas aja dari naungan wilayah orang tua.

Buat para emak-emak dan bapak-bapak, SEMANGAT!!!


Love,

Chely

Senin, 17 September 2018

SEX BEFORE MARRIAGE



Bahasan kali ini masuk kategori bimbingan orang tua kayaknya yah buat teenager.. karena aku mau bahas tentang sex before marriage. Why? Karena kemarin malem pas aku sama abang lagi beli diapers buat Zac di minimarket, ada sepasang muda mudi yang aku yakin masih usia 15-17 tahun ngeliat dari kumis tipis si cowok dan badan singset cenderung kerempeng si cewek, mereka cekikikan dan gelagat aneh berdiri disebelahku waktu bayar ke kasir, and guess what? Mereka beli alat kontrasepsi yang mejeng di etalase depan meja kasir.


Awalnya aku nggak ngeh, aku cuma ngerasa nggak nyaman ngeliat mereka bermesraan yang bener-bener aura meresahkan disebelahku sambil ngelirik kearahku yang lagi transaksi bayar. Mbak kasirnya aja juga keliatan risih. Baru dikasih tau sama abang pas udah dijalan mau pulang kalo mereka beli alat kontrasepsi instan itu. Dan yang aku pikirin detik itu adalah.. ibunya.

Ibu dari dua anak puber tipis-tipis itu. Mungkin kalo itu terjadi dimasa aku belum punya anak aku bakalan yang nggak peduli sama sekali karena toh kenal aja enggak. Tapi kemarin beneran yang aku sampe bengong sepanjang jalan wondering gimana kalo aku jadi ibunya, gimana kalo sampe anak gue yang begitu. Dan berlanjut sepanjang hari tadi mulai dari bersih-bersih rumah, setrika baju, masak, nyuci piring, aku masih sambil yang ngomong sendiri dalam hati. Akhirnya aku mutusin buat bahas ini di blog dengan sudut pandang seorang ibu.

Tolong dibaca dari awal sampai akhir ya biar kalian ngerti dan nggak salah paham kalo aku disini sama sekali nggak menjudge ataupun menggurui. Aku justru ingin merangkul. Aku nggak bisa cuek kayak dulu gitu aja, dan sekalian juga biar tulisan ini bisa dibaca Zac kalo udah gede. Sebenernya banyak kasus begini dari dulu disekitarku. Tapi I didn’t feel anything ketika dapet berita si ini nggak perawan, si itu nggak perjaka, si anu hamil duluan. Sekedar oh.. ehm.. skip. Karena aku nggak berminat ngomongin or judge orang itu. Idk why sejak kemarin malem aku beneran liat sendiri pelakunya lagi mau praktek ena-ena aku jadi miris. Pengin yang melakukan sesuatu tapi nggak tau gimana. Nggak mungkin aku mau cegah mereka dan tiba-tiba ceramah kan?

So aku mau sharing aja, menuangkan pikiranku, pendapatku, saranku, disini. Aku sebagai seorang ibu akan berusaha mendidik anak mengenai seks sejak dini. Sudah banyak kok artikel dan tulisan tentang ini. Tinggal kita sebagai orang tua memahami bahwa pendidikan seks itu penting. Jangan dianggap hal yang tabu untuk dibicarakan sama anak. Ini sama sekali beda dengan cerita mesum. Kita nggak ngajarin hal yang porno. Justru awal pendidikan seks ini harus diajarkan oleh orang tua. Bukan guru IPA disekolah yang hanya menjelaskan sistem reproduksi

 Aku belum ngobrol lebih jauh sama abang tentang ini sih karena Zac juga masih kecil banget. Aku yang masih Cuma ngajarin nama bagian-bagian tubuhnya dengan benar. Contohnya aku menjelaskan bahwa yang untuk pipis itu namanya penis, bukan pake istilah burung, titit, or any other. Dan itu bagian yang nggak boleh dilihat orang. Alhamdulillah dia udah bisa ngerasa malu sama orang kalo nggak pake diapers dan celana.

Kali ini aku mau brainstorm aja tentang logika dan realita yang terjadi sama pelaku SBM. Aku bahas yang ngelakuinnya dengan sukarela ya, azas sama-sama suka. Bukan sebuah kasus pelecehan seksual or syndrome akibat pengalaman traumatis karena itu wilayah dan butuh bantuan psikolog/psikiater. Juga bukan bahas tentang kupu-kupu malam karena itu adalah pilihan sadar mereka.

Kira-kira apa sih alasan seorang wanita mau menyerahkan virginity nya? Cinta?  Terus apa cinta itu bisa bikin kalian dijamin dapet pertanggungjawaban? Banyak tuh yang setelah hamil ditinggal lari, disuruh aborsi, bahkan dibunuh. Yang dinikahin juga banyak. Tapi yang pernikahannya nggak langgeng pun banyak. Karena alasan menikah itu karena siap lahir batin, bukan karena hamdul.

Once again I am not judge anyone. Aku cuma mau mengembalikan logika para pemuja cinta. Cinta itu perasaaan yang suci guys. Jangan mengambil/menyerahkan kesucian atas nama cinta. Buat para wanita, kira-kira apa kalian mau menyerahkan virginity meskipun nggak dinikahi? Apa kalian berpikir akan putus sama doi setelah kalian digagahi? Aku yakin banyak sekali yang menyesal setelah nggak virgin lagi. Banyak sekali yang hidupnya hancur. Memilih mengulangi lagi dan lagi karena terlanjur melewati batas. Toh nggak ada perbedaan sekalinya sudah jebol pertahanan. Hanya karena satu kebodohan yang membuat benci sama diri sendiri dan merusak hidup selamanya.

Buat para lelaki, kira-kira kalian mau nggak lahir dari peristiwa MBA beserta resiko sosialnya? kalo kalian punya adik or anak cewek mau nggak diambil virginity nya duluan sama kekasihnya? Ada nggak cita-cita punya menantu brengsek? Or punya cucu yang ditinggal lari bapaknya?

Dulu jaman SMA ada temen cowok yang curhat kalo keperjakaannya diambil sama ceweknya. Shit dalam hati gue napa dunia tebalik dan napa dia curhat sama gue. Mungkin beberapa dari kalian ada yang bakalan marah ketika ada temen cowok yang cerita begitu ya. Tapi emang ini temen yang sering curhat sama aku dulu. Bukan temen yang jarang ngobrol ujug-ujug cerita begituan. Dan aku orang yang realistis banget. Yang harus punya alasan logis untuk berbuat sesuatu. Dan aku tau temenku hanya berniat curhat. Nggak yang melecehkan aku sama sekali. Dan aku emang sering jadi pendengar curhatan temen mulai dari masalah ringan sampe berat. Sampe kadang aku rikuh sendiri kalo lagi dengerin masalah yang mungkin agak berat karena kok mereka bisa ya cerita seterbuka itu ke aku, tapi ya aku seneng juga kalo bisa bantu mereka dengan jadi pendengar yang baik. Kadang orang Cuma butuh sharing kan biar lega dan bisa berpikir jernih. Meskipun kadang aku juga nggak kasih solusi apa-apa.

Jadi temenku itu bilang rasanya kehilangan keperjakaan adalah MENYESAL. Jarang-jarang dapet cerita begini dari sisi cowoknya guys. Katanya yang dia pikirin setelah itu adalah apa yang bisa diberikan ke istri sahnya nanti. Karena dia udah putus sama cewek yang udah ambil perjakanya dia. Ini beneran yang dia sampein ke aku guys, aku nggak yang menduga-duga sendiri.

Padahal kalo pemikiranku sebagai sisi wanita mungkin kalo laki-laki itu kan nggak berbekas yah. Nggak ada bedanya perjaka atau nggak, hanya Tuhan dan dirinyalah yang tahu. Tapi ternyata ada rasa guilty yang menghantui karena merasa telah membohongi istri sahnya nanti. Dan penyesalan adalah penyesalan. Datangnya dibelakang karena nggak antisipasi didepan. Aku nggak bisa anggap enteng sebuah penyesalan yang kayak gitu. Karena itu bukan sekedar penyesalan yang elo lupa nggak pasang alarm terus bangun kesiangan. Itu adalah penyesalan yang efeknya luas banget guys.

Cobalah sebisa mungkin ambil keputusan besar dengan sadar. Apa bener ini keputusan terbaik? Apa kemungkinan terburuk yang terjadi? Apa aku bisa tanggung resikonya? Apa aku bakalan nyesel setelahnya? Sebisa mungkin pikirin itu semua. Dia janji tanggungjawab? Bikin hitam diatas putihnya! Coba sih aku pengin tau kalo ada pacar lagi minta kalian nyerahin virginity, terus kalian bikin hitam diatas putih bahwa dia bakalan tanggungjawab nikahin, kalo perlu ada deadline kapan nikahnya, apa kira-kira dia jadi ngelakuinnya? Go ahead. Setidaknya nggak ada yang lari dari tanggungjawab. Satu resiko terhapuskan. Resiko lain monggo ditanggung pemenang.

Sebenernya lebih banyak alasan untuk nggak ngelakuin itu daripada sekedar hanya karena cinta loh.
1.       Diri sendiri
Yup, karena kita harus mencintai diri kita sendiri sebelum mencintai orang lain biar nggak dibutakan cinta. Segala keputusan hidup harus kita ambil sendiri karena seumur hidup kita bakalan melangkah dengan kaki, mendengar dengan telinga, melihat dengan mata, berpikir dengan kepala dan merasa dengan hati kita sendiri.
2.       Orang tua
Aku yakin kedua orang tua merawat anaknya, menjaga kesehatannya, mendidik kebaikan, bukan untuk melakukan SBM dan menanggung resikonya. Termasuk orang tua yang dulunya adalah pelaku SBM itu sendiri.
3.       Calon istri/suami sah
Banyak sekali orang baik hati didunia ini yang mau menerima seseorang yang tidak perawan/perjaka meskipun mereka sendiri masih segel utuh. Tapi aku yakin akan sangat lebih membahagiakan bagi seseorang yang pernah menyesal itu bisa menghapus feeling guilty nya meskipun itu nggak mungkin. Kayak temen yang curhat ke aku itu.
4.       Anak
Nggak ada yang namanya anak haram. Semua anak terlahir suci meskipun terlahir dari orang tua yang MBA. Tapi gimana perasaannya ketika ada orang lain yang tau dan punya niat jahat terus nyampein kalo dia terlahir karena peristiwa seperti itu? Marah? Malu? Bahkan mengulangi kesalahan orang tuanya? tapi aku juga yakin bahwa banyak anak yang bisa memaafkan dan menerima bahwa orang tuanya nggak sempurna dan punya kesalahan. tergantung dari cara orang tua menjelaskan dan mau meminta maaf kepada anaknya. Karena itu sudah resiko yang nggak bisa dihindari.

Disini aku sama sekali nggak bahas soal agama ataupun norma sosial. Pure hanya logika dan realita sekitar kehidupanku. Aku juga nggak bermaksud sama sekali buat menyinggung pihak tertentu. Aku hanya mau berperan menyampaikan pikiran bahwa aku sangat menyayangkan hal seperti itu terjadi. Istilahnya aku “ngeman” banget ke sesama perempuan khususnya.

Jangan bandingkan hidupmu dengan orang luar yang mereka nggak menyesal kok ngelakuin SBM. Itu sudah hal yang lumrah disana. Dan jarang terjadi penelantaran anak. Bahkan meskipun mereka nggak menikah tapi kesadaran dalam bertanggungjawab soal anak sangat tinggi. Tingkat kedewasaan disana sudah lebih baik dibandingkan disini. Yang aku tekankan disini adalah JANGAN MENYESAL. Aku cuma semacam memberikan spoiler resiko kehidupan para pelaku SBM di Indonesia yang sebenernya masing-masih sudah sangat mengerti tapi terkadang karena dibutakan cinta atau nafsu sesaat atau juga karena kurang kepedulian ataupun ketidaktahuan orang tua tentang pentingnya seks education, pentingnya untuk selalu mengingatkan dan menasehati anak karena memang itulah tugas orang tua.

Last but not least, untuk para pelaku SBM maupun MBA, Move on. Kalian nggak perlu menyesali yang sudah terjadi. Lanjutkan hidup dengan baik. Hadapi semua resiko yang sudah kalian ambil. Kita nggak bakal bisa balikin waktu tapi kita semua sama-sama berhak punya masa depan. Dan kalo ada anak hasil SBM, mau menikah atau enggak itu pilihan kalian. Jangan mikirin apa kata orang lain. Jangan menikah karena malu. Menikahlah karena siap. Jangan mengemis pertanggungjawaban kalo emang ada yang nggak mau tanggungjawab. Anak terlahir dengan rezeki masing-masing. Rawatlah anak kalian dengan baik, dan usahakan terus terang tentang keadaan di usianya yang tepat. Orang tualah yang tau kapan waktu dancara yang baik untuk menjelaskan pada anak. Jangan gengsi untuk minta maaf agar anak bisa mengerti dan menerima orang tuanya. semakin angkuh orang tua, semakin nggak akan saling mengerti. Dan untuk orang tua tunggal, tetap semangat dan kuat. Banyak kok diluaran sana yang punya kisah sama bahkan lebih buruk. Syukuri hal-hal kecil yang masih kita miliki daripada harus menghitung apa yang hilang dan kurang. Tuhan Maha baik dan nggak pernah meninggalkan kita meskipun kita melakukan kesalahan.

Love,

Chely